Gudang Info yang berisi Berita, Cerita, Hiburan, dan Ilmu Pengetahuan

Friday, 12 August 2016

5 Kecerdasan dalam Permainan Tradisional Sluku-Sluku Bathok

Khoirudin Joyo

Howard Gardner mulai memperkenalkan tujuh kecerdasan majemuk yang terdapat pada diri manusia. Yakni, kecerdasan bahasa, kecerdasan logis-matematika, kecerdasan spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, dan kecerdasan intrapersonal. Setelah peneliti analisis, konsep kecerdasan majemuk yang terdapat dalam permainan tradisional sluku-sluku bathok di Komunitas Pojok Budaya Pandes Panggungharjo Sewon Bantul Yogyakarta adalah:

Anak-anak bermain sluku-sluku bathok

Tembang permainan tradisional sluku-sluku bathok yang dinyanyikan ketika permainan berlangsung.
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela elo
Si romo menyang solo
Oleh olehe payung mutha
Mak jenthit lolo loba
Wong mati ora obah
Yen obah medeni bocah
Yen urip goleke duit
1. Kecerdasan Bahasa
Memperhatikan dan menyesuaikan perkembangan bahasa anak dalam memberikan permainan tidak kalah pentingnya dengan memperhatikan dan menyesuaikan dengan masa peka. Walaupun keduanya sama-sama penting, tetapi mempunyai tekanan masing-masing. Jika masa peka menekankan pada minat dan kebutuhan anak, maka aspek bahasa menekankan pada perkembangan anak dalam mempergunakan bahasa. Sehingga menyesuaikan antara masa peka dengan perkembangan bahasa anak adalah penting.

Hal inilah yang menjadi dasar Komunitas Pojok Budaya ketika memfasilitasi permainan tradisional untuk anak-anak. Selaras yang dikatakan  oleh Nana:
“pelestarian permainan tradisional di komunitas ini dilakukan agar anak-anak bisa belajar tanpa dipaksa. Mereka tidak sadar, meskipun tujuan bermainnya agar mereka gembira tetapi kami juga berharap mereka dapat berkembang kecerdasannya melalui permainan itu. Makanya, kami mencocokkan dolanan-dolanan yang ada di kampung ini dengan umur mereka. Seperti dolanan sluku-sluku bathok, karena permainan ini mudah dan juga ada tembangnya maka kami prioritaskan permainan itu untuk anak-anak yang masih PAUD atau TK biar anak-anak bisa belajar lewat tembang juga gerakannya, kalau diperuntukkan untuk orang dewasa mereka pasti akan cepat bosan”.  

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa penyesuaian permainan dengan umur dan masa peka anak memang penting. Ini sebagaimana yang dilakukan oleh Komunitas Pojok Budaya, mereka memprioritaskan permainan tradisional sluku-sluku bathok yang memang mudah aturan permainannya untuk anak-anak usia PAUD dan TK. Sehingga anak-anak akan mudah mengikuti aturan permainan tersebut. 

Adapun Kecerdasan bahasa merupakan kemampuan seseorang untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan (berbicara) maupun dalam bentuk tulisan. Kecerdasan ini juga mencakup kemampuan untuk mendengarkan, memanipulasi struktur bahasa (sintaksis), atau suara-suara bahasa, serta kegunaan praktis dari suatu bahasa.  Selanjutnya, Montessori menyatakan bahwa periode kepekaan anak dimulai sejak usia 0-6 tahun. Jadi, pada usia ini kecerdasan bahasa anak dapat berkembang lebih pesat dibanding orang dewasa. 

2. Kecerdasan Visual Spasial
Kecerdasan visual spasial merupakan kemampuan untuk membentuk suatu gambaran tentang tata ruang atau menghadirkan dunia mengenai ruang secara internal di dalam pikirannya. Selain itu, kecerdasan visual spasial mencakup pada kemampuan anak untuk melihat secara detail dan bisa menggunakan kemampuan ini untuk melihat segala objek yang diamati. Lebih dari itu, kecerdasan ini bisa merekam apa yang dilihat dan mampu dilukiskannya kembali. 

Berbagai cara untuk mengembangkan kecerdasan visual spasial anak, salah satunya adalah dengan bermain permainan tradisional sluku-sluku bathok. Ini dapat dilihat ketika anak-anak memainkan permainan tradisional sluku-sluku bathok di Komunitas Pojok Budaya. Yang mana sebelum memulai permainan, pengurus Komunitas Pojok Budaya sebagai fasilitator memandu anak-anak untuk duduk membentuk lingkaran, selanjutnya mereka diminta untuk meluruskan kedua lutut. Hal ini sebagaimana diuraikan oleh bapak Wahyudi“intruksi dari kami agar mereka duduk membentuk lingkaran bersama teman-temannya sebelum main sluku-sluku bathok, kemudian duduk meluruskan kaki. Itu agar mereka bisa peka terhadap macam-macam bentuk. Oh.. ternyata lingkaran seperti ini, lurus itu seperti ini.. Kami berusaha sebisa mungkin bagaimana agar semua kecerdasan yang dikenalkan Gardner bisa diasah lewat permainan tradisional. Makanya waktu kami intruksi ke anak-anak, ayo bentuk lingkaran dulu, tangan kami juga bentuk lingkaran. Jadi dari sini diharapkan kecerdasan visual-spasialnya  juga  terasah. Mereka akan merekam bentuk itu dengan baik” 

3. Kecerdasan Musikal
Disebutkan dalam beberapa penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Barat, musik merupakan salah satu hal yang mempunyai pengaruh pada kehidupan manusia, mulai dari bayi hingga menjadi dewasa.  Lebih dari itu, pada abad pertengahan, musik menjadi salah satu pilar dari empat pilar pendidikan, yaitu musik, geometri, astronomi, matematika. Bahkan Plato sebagaimana dikutip May Lwin pernah berkomentar mengenai musik, bahwa pelatihan keterampilan musik merupakan suatu instrument yang lebih potensial dari pada yang lainnya, karena irama dan harmoni merasuk ke dalam diri seseorang melalui tempat-tempat tersembunyi dalam jiwanya.  Sehingga tidak diragukan lagi bahwa pada masa itu pelajaran musik memegang peranan penting bagi prestasi akademik peserta didik. 

Selanjutnya, dalam penelitian psikologi perkembangan anak-anak, bernyanyi merupakan nutrisi bagi bermain. Bernyanyi adalah benih bagi kecerdasan musikal seorang anak. Tetapi untuk menjadi cerdas itu sendiri memerlukan berbagai teknik. Salah satu teknik tersebut adalah bermain. 

Melalui permainan tradisional sluku-sluku bathok di Komunitas Pojok Budaya yang disertai tembang saat melakukan permainannya, maka tanpa disadari bisa dijadikan sebagai media untuk mengembangan kecerdasan musikal anak. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Arumi “lewar tembang lagu sluku-sluku bathok yang dinyanyikan saat bermain, anak-anak bisa mengenal nada, mereka juga belajar menyanyikan lagu. Idealnya dengan permainan ini anak-anak dilatih agar peka terhadap nada-nada. Dari sini kecerdasan musikal anak akan diasah

4. Kecerdasan Kinestetik
Manusia tidak akan terpisahkan dengan tubuhnya dan setiap bagian tubuh mempunyai fungsi dan tugas masing-masing. Melakukan permainan dengan gerakan saat bermain adalah cara menjaga tubuh dan juga salah satu cara untuk mengasah kecerdasan kinestetik anak. 

Oleh karena Kecerdasan kinestetik merupakan kemampuan olah tubuh anak dalam mengekspresikan gagasan dan emosi melalui gerakan, termasuk kemampuan yang mencakup keahlian-keahlian fisik khusus, seperti, keseimbangan, ketangkasan, kekuatan, kelenturan, dan kecepatan.  Maka, permainan tradisional sluku-sluku bathok yang memiliki gerakan dalam permainannya, dapat dijadikan sebagai media pengembangan kecerdasan kinestetik anak. Hal ini sebagaimana diuraikan oleh  Wahyudi
“sebenarnya jika dilihat dari gerakannya, sluku-sluku bathok itu ga ada maknanya. Tetapi gerakan itu lebih banyak difungsikan untuk bagaimana mengembangkan kecerdasan anak, bagaimana untuk menggembirakan anak. Misalnya gerakan dolanan sluku-sluku bathok bisa digunakan untuk mengasah kecerdasan kinestetik anak. anak bisa melatih kemampuan menggunakan tubuh lewat dolanan ini”. 

5. Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan anak untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif sehingga anak dapat memahami perbedaan mood, motivasi, dan perasaan orang lain. Kecerdasan ini menuntun anak dalam memahami makna kerja sama dan komunikasi. Anak yang pandai hal ini akan mudah bergaul dan punya banyak teman.

Permainan tradisional sluku-sluku bathok dalam Komunitas Pojok Budaya adalah salah satu permainan tradisional yang dimainkan secara bersama-sama atau berkelompok. Masing-masing anak yang mengikuti permainan tradisional ini diharuskan duduk dalam lingkaran dengan menyelonjorkan kedua kaki sehingga telapak kaki mereka saling bertemu. Selanjutnya, anak-anak bersama-sama menyanyikan lagu sluku-sluku bathok. Kebersamaan ini otomatis akan mengasah kecerdasan interpersonal anak. Hal ini sebagaimana dituturkan oleh Rindy “dengan berinteraksi anak-anak belajar memberi umpan balik kepada orang. Itu yang didapat ketika anak-anak bermain sluku-sluku bathok”.  

pen/Khafidlo Fahri Inayati (Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Annur Bantul)
Referensi:
1. May Lwin (dkk.), Cara Mengembangkan Berbagai Kecerdasan, terj. Christine Sunjana (Yogyakarta: Indek, 2003), hlm.243.
2. Esthi Endang Ayuning Tyas, Cerdas Emosional Dengan Musik (Yogyakarta: Arti Bumi Intaran, 2008), hlm. 120.
3. Wawancara dengan Arumi, Guru PAUD Among Siwi, tanggal 28 Oktober 2013, pukul 10:37 di Gedung PAUD Among Siwi Pandes Panggungharjo Sewon Bantul
4. Wawancara dengan Wahyudi Anggoro Hadi, Pendiri Komunitas Pojok Budaya, tanggal 24 November 2012, pukul 17;00, di Kediaman Bapak Wahyudi. Pandes Panggungharjo Sewon Bantul
5. Anisa Yus, Model Pendidikan Anak Usia Dini (Jakarta: Kencana, 2011), hlm. 71.
6. Esthi Endah Ayuning Tyas, Cerdas Emosional…, hlm. 125.

0 comments:

Post a Comment