Gudang Info yang berisi Berita, Cerita, Hiburan, dan Ilmu Pengetahuan

Tuesday, 27 October 2015

Filosofi Unik Tentang Urutan Angka dalam Bahasa Jawa

Khoirudin Joyo

Filosofi unik tentang urutan angka dalam bahasa Jawa wajib diketahui, khususnya bagi masyarakat Indonesia. Penyimpangan penamaan angka bilangan dalam bahasa Jawa kerap dikaitkan dengan sebuah filosofi yang ada kaitannya dengan usia seseorang. Filosofi unik tentang urutan angka dalam bahasa Jawa tersebut menyebutkan bahwa penyimpangan penamaan baru dimulai dari angka belasan sampai angka 60. 

Filosofi Unik Tentang Urutan Angka dalam Bahasa Jawa
Budaya Jawa (informid)
Jika diperhatikan lebih lanjut, seharusnya angka 11 disebut sebagai sepuluh siji. Namun seringkali penyebutan tersebut disalahkan, karena yang benar disebut sebagai sewelas. Begitu juga seterusnya disebut sebagai rolas, telulas, hingga songolas. Filosofinya adalah kisaran usia 11 hingga 19 tahun merupakan sebuah masa dimana rasa belas kasih muncul di setiap jiwa manusia. 

Hal serupa juga terjadi pada penyebutan angka 21 yang disebut sebagai selikur bukan rongpuluh siji. Filosofinya adalah kata selikur adalah kependekan dari 2 kata yakni LIngguh KUrsi yang memiliki arti yaitu duduk di atas kursi. Sama halnya dengan penyebutan angka 25 yaitu selawe bukan disebut sebagai limang likur. Filosofinya adalah kata selikur berasal dari kepanjangan kata SEneng senenge LAnang lan WEdok, yang memiliki arti sebagai puncak asmara dari seseorang yang ternyata ditandai dengan pernikahan.

Sementara itu filosofi dari angka 60 disebut sebagai sewidak adalah karena sewidak memiliki kepanjangan SEjatine Wis wayahe tinDAK. Makna dari kata tersebut adalah di usia tersebut seseorang harus sudah siap jika sewaktu-waktu dipanggil oleh Sang Maha Kuasa.

Itulah Filosofi Unik Tentang Urutan Angka dalam Bahasa Jawa. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan Anda untuk mengetahui lebih dalam tentang seluk beluk Budaya Jawa.

1 comments:

  1. nek SEKET (50) opo maknane mbah..???
    matur nuwun

    ReplyDelete