Gudang Info yang berisi Berita, Cerita, Hiburan, dan Ilmu Pengetahuan

Saturday, 6 June 2015

Resume Film “The New Rulers of The World”

Sebuah perubahan besar pada tatanan ekonomi dunia baru. Tatanan ekonomi baru yang mengakibatkan terjadinya ketidakadilan dalam pesatnya era maju yang terlihat. Globalisasi terdesain agar menguntungkan negara-negara maju. Fakta ini memang berbeda dengan idealnya karena globalisasi yang banyak digencarkan oleh Amerika dan negara kapitalis liberal pada konsepnya bertujuan untuk menyatukan segala perbedaan di dunia sehingga dapat memakmurkan dan memajukan semua negara.  Akan tetapi, pada realitanya, globalisasi hanya menguntungkan segelilintir Negara yang notabene adalah Negara yang adidaya dan sudah maju. Sedangkan Negara-negara dunia ketiga semakin sengsara dan menderita. Jurang pemisah antara si kaya dan si miskin semakin tampak dengan jelas. 

Adanya globalisasi mengakibatkan buruh yang diperbudak dan masalah utang luar negeri tidak terhindarkan lagi bagi negara-negara berkembang. Inilah era penguasa baru, khususnya pengaruh bagi sebuah negara berkembang seperti Indonesia. Ketidakadilan ini sangat terlihat jelas, di mana ada perbedaan yang besar antara kondisi buruh pabrik di Indonesia yang mengenaskan dengan besarnya keuntungan yang diperoleh perusahaan dan distributor. 

Resume Film “The New Rulers of The World”
Resume Film “The New Rulers of The World”
Perusahan Multinasional (Multinasional Company/MCN ) seperti Nike, Adidas, dan GAP memperlakukan pekerja mereka dengan tidak manusiawi.  Buruh yang bekerja pada perusahaan MCN digaji sangat rendah. Upah minimum di Indonesia yang rendah banyak dimanfaatkan oleh perusahaan asing untuk meraup banyak keuntungan. Banyakya pengangguran yang ada menjadikan bekerja di tempat perusahaan tersebut adalah pilihan yang lebih baik daripada tidak bekerja sama sekali. Tetapi tenaga para buruh tersebut sangat diperas untuk menghasilkan kuantitas yang besar dan kualitas yang baik. Semakin besar dan baik dari hasil yang diproduksi maka perusahaan-perusahaan tersebuat akan semakin kaya.

Kondisi yang sebenarnya terjadi pada para pekerja dengan apa yang seharusnya mereka dapatkan tidaklah sama. Salah satu perusahaan MCN, yaitu GAP memperlakukan pekerja mereka dengan tidak manusiawi. Pekerja mereka ada yang harus bekerja selama 36 jam, sebuah hal yang tidak masuk akal tapi nyata terjadi. Hal ini dikarenakan adanya sistem long shift yang diberlakukan oleh perusahaan secara illegal. Perusahaan GAP menyusun kode etik yang bertujuan menjawab berbagi kritik dari pihak lain yang mencurigai mereka terkait ketidakmanusiawian dalam memperlakukan pekerjnya. Perusahaan memamarkan akan memberikan standar tertinggi dan melindungi buruh. Pada kenyataannya hal tersebut adalah tidak sama dengan kode etik mereka. Para investor asing semakin tertarik dengan tersedianya buruh upah murah sehingga kode etiknya tidak diterapkan.
buruh Indonesia sudah sedemikian miskin. Dan tingkat pengangguran sudah sedemikian tinggi. Sehingga mereka mau bekerja apa saja dan beberapa pun upah yang diterima. 

Perusahaan seperti GAP sangat terbantu dengan konsisi yang ada di Indonesia. Hal ini semakin memperlancar urusan mereka dalam mengkapitalisasi kekuasaan ekonomi di Indonesia. Kode etik perusahaan yang mereka buat tidak mereka informasikan pada para pekerja. Pekerja seakan-akan ditutup mata dan mulut mereka rapat-rapat agar tidak membeberkan keburukan perusahaan. Pekerja tidak boleh menceritakan bahwa mereka telah diperas saat bekerja.  Itulah salah satu konspirasi di belakang suksesnya produk perusahaan yang diproduksi murah tetapi dengan harga jual di pasar yang sangat tinggi. 

Inilah kenyataan globalisasi yang menjadi harapan masa depan dunia. Mungkin globalisasi hanyalah kedok bagi penguasa saat ini yang menggunakan cara-cara lama yang dulunya dilakukan raja-raja dan sekarang diteruskan oleh perusahaan multinasioal. Perusahaan tersebut terbantu dengan bantuan berbagai lembaga keuangan dunia dan pemeritahan Indonesia sebagai penopangnya. Mereka adalah raja baru di era global. 

Tidak hanya sebatas tentang perusahaan tertentu yang menjadi raja kapitalis saat ini, tetapi terbentuknya globalisasi mempunyai cerita lain yang tak banyak orang melihatnya. Globalisasi yang terjadi di kawasan Asia mempunyai sejarah kelam. Pabrik, bank, dan hotel mewah yang ada di Indonesia dibangun di atas peristiwa pembunuhan masal satu juta manusia. Masa itu di mana Jendral Soeharto berkuasa menguasai negeri ini. Pada masa itu terjadi pembunuhan yang sadis terhadap orang-orang yang diyakini sebagai bagian dari komunis. Padahal sebenarnya mereka bukan terlibat aktif atau pun malah tidak terkait dengan komunis, tetapi mereka dibantai dan dibuang secara tidak manusiawi. CIA memaparkan bahwa kejadian tersebut menjadi salah satu pembantaian massal terkejam abad 20. 

Kejadian tersebut menghantarkan Soeharto ke puncak kekuasaan.  Namun kini terbukti bahwa dalam pencapaian kekuasaannya pada saat itu, Soeharto didukung oleh Amerika dan Inggris serta para pebisnis Barat. Para pebisnis barat sangat berhutang jasa pada Soeharto yang telah berhasil menyingkirkan orang yang sangat mereka tidak sukai, yaitu Soekarno. Presiden Soekarno yang saat itu masih menjadi kepala Negara Indonesia sangat yakin akan kemandirian ekonomi rakyat dan hal itu sangat berbeda jalur bagi kepentingan para pebisnis barat. Soekarno tidak mengizinkan masukkanya pihak-pihak yang dapat merusak perekonomian rakyat Indonesia. Soekarno boleh saja membuat tembok penghalang untuk asing dan mempersiapkan calon pengelola negara terlebih dahulu. Namun, usaha pihak luar ingin mendongkel kekuasaan Soekarno tidak kalah kuat. Dan hal ini semakin dipermudah karena Soeharto yang pro dengan pihak barat. Dalam upayanya tersebut, Soekarno yang notabene seorang proklamator bangsa dapat dilengserkan oleh seorang Soeharto yang mempunyai maksud lain dalam pencapaian kekuasaannya. Peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno pada Presiden Soeharto diiringi pembantaian masal satu juta manusia. 

Pada tahun 1967 Perusahan Timeline mengadakan sebuah pertemuan di Swiss yang dihadiri oleh pengusaha-pengusaha besar seperti David Rockefeler. Tujuan pertemuan tersebut adalah membagi sektor-sektor eksploitasi di bumi Indonesia kepada semua perusahaan asing. Beberapa pemimpin Indonesia yang dikirim oleh Soeharto hadir dalam konferensi tersebut.  Suatu hal baik bagi barat sebagai awal dari sebuah proses globalisasi. Pantas saja, setelah pulang dari konferensi, delegasi Indonesia membuat UU No. 1 tahun 1967 tentang penanaman modal asing sebagai unsur legalitas atas ekspansi besar-besaran perusahaan asing di Indonesia. 

Indonesia adalah sebuah negara di mana imperialisme lama bertemu imperialisme baru. Ini sebuah negara yang kaya dengan sumber daya alam yang melimpah. Indonesia dijajah oleh Belanda di abad ke-16, itu sesungguhnya hutang yang sampai saat ini masih belum terbayar. Kemudian munculah Bank Dunia dan IMF yang berkedok bantuan untuk membantu perekonomian di Indonesia. Hutang digunakan sebagai alat agar kebijakan IMF dan Bank Dunia diterapkan di banyak dunia ketiga, salah satunya Indonesia. Dalam kondisi yang sangat buruk Indonesia menerima penawaran bantuan “hutang” dari Bank Dunia dan IMF. Syarat yang harus dipenuhi Indonesia yaitu dengan membiarkan perusahaan barat untuk mengolah bahan mentah dan pasar di Indonesia

Indonesia dan Negara dunia ketiga lainnya sudah berada dalam lingkaran setan kemiskinan.  Sangat sulit untuk mereka bisa keluar. Negeri yang begitu kaya ini pun diubah menjadi negeri pengemis sekarang ini. Indonesia telah didekte oleh Bak Dunia dan IMF terkait kedok mereka dalam memberikan bantuan berupa hutang kepada Indonesia. 

Bank Dunia dan IMF yang digambarkan sebagai agen pembangunann ekonomi dan mengurangi kemiskinan, tetapi mereka malah mendukung rezim otoriter yang mendukung kepentingan barat. Hal ini dimanfaatkan oleh sang otoriter untuk mengambil keuntungan bagi mereka dan kroni-kroninya sehingga mereka dapat memperkaya diri. Hampir sepertiga dari hutang yang diberikan oleh Bank Dunia dan IMF kepada ekonomi Indoesia hilang tanpa jejak akibat dari korupsi yang dilakan pejabat. Hal ini dapat terlihat dari proyek-proyek yang diadakan tetapi tidak selesai. Selama tiga decade menguasai Indonesia, Soeharto telah berhasil mengambil uang negara sebanyak 150 triliyun rupiah yang ia bagikan kepada keluarga dan kroni-kroninya. Ini merupakan suatu ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat. Beban hutang luar negeri Indonesia harus dipikul oleh seluruh rakyat Indonesia, padahal mereka sendiri tidak merasakan menggunakannya. 


0 comments:

Post a Comment