Gudang Info yang berisi Berita, Cerita, Hiburan, dan Ilmu Pengetahuan

Wednesday, 31 December 2014

Makalah Pendidikan Agama Islam Tentang Iman Kepada Allah SWT

Abstrak
            Keyakinan kepada Allah Yang Maha Esa (tauhid) merupakan titik sentral keimanan, karena itu setiap aktivitas seorang muslim senantiasa dipertautkan secara vertikal kepada Allah SWT. Iman atau yakin kepada Allah SWT adalah ilah (sembahan) yang benar. Allah berhak disembah tanpa menyembah kepada yang lain, karena Dialah Pencipta hamba-hamba-Nya. Dialah yang memberi rezeki kepada manusia. Pekerjaan seorang muslim yang dilandasi keimanan dan dimulai dengan niat karena Allah akan mempunyai nilai ibadah di sisi Allah. Untuk tujuan ibadah inilah Allah menciptakan jin dan manusia sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:
(Marzuki, 2012:88).

"padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mendirirkan salat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus". (Al-Bayyinah, 98:5)
 
Makalah Pendidikan Agama Islam Tentang Iman Kepada Allah SWT
Makalah Pendidikan Agama Islam Tentang Iman Kepada Allah SWT (bhr-buhari.com)
A.    Pendahuluan

            Menurut pengertian bahasa, kata iman adalah percaya atau membenarkan. Menurut ilmu tauhid, iman berarti kepercayaan yang diyakini kebenarannya dalam hati, diikrarkan secara lisan, dan direalisasikan dalam perbuatan.(Syamsuri, 2007:29).
            Berdasar pengertian itu, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa iman kepada Allah SWT adalah mempercayai atau meyakini akan adanya Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa dengan segala kemahasempurnaan-Nya. Kepercayaan tersebut diyakini dalam hati sanubari, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan amal saleh. .(Syamsuri, 2007:29).
            Dalam firman-Nya, Allah SWT menyatakan : :Bukanlah menghadapkan wajahmu kearah Timur dan Barat itu suatu kebajikan. Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan (sebagian) harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.: (QS. Al-Baqarah, 2: 177).
            Rasa percaya akan adanya Sang Maha Pencipta Tunggal, Allah SWT, dapat ditumbuhkan dengan berbagai cara. Di antaranya dengan menggunakan akal pikiran yang sehat untuk memerhatikan segala apa yang telah diciptakan Allah SWT, seperti alam semesta dan segala isinya. Berdasarkan ayat Al-Qur,an dan hadis-hadis Nabi, yang diperkuat oleh akal sehat, maka hukum beriman kepada Allah SWT itu adalah fardu,ain. Jika ada orang yang mengaku Islam, tetapi tidak percaya kepada Allah SWT, maka orang trsebut dianggap telah murtad (keluar dari Islam). (Syamsuri, 2007:29-30).

B.     Ketauhidan (Keimanan Kepada Allah SWT)
            Tauhid adalah mengiktikadkan bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Iktikad itu harus dihayati, baik dalam niat, amal, maupun dalam maksud dan tujuan.(Azyumardi Azra, dkk, 2002:124). Iman kepada Allah (tauhid) disamping mengakui bahwa Allah itu Ada dan Maha Esa, juga perlu mempercayai sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Diantara sifat kesempurnaan-Nya Allah mengetahui segalanya, tiada yang tersembunyi bagi-Nya barang sesuatu pun. Dia Maha Kuasa dan sanggup melaksanakan segala kehendak-Nya, dengan tidak dapat dihalangi oleh siapapun dan kekuatan apapun. Allah Swt berfirman :






Artinya : dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib;, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (lauh mahfuzh) (QS. Al-An.am (6):59).
            Dengan demikian semakin jelaslah bahwa tauhid benar-benar merupakan inti dari akidah Islam, yakni dengan mengiktikadkan bahwa Allah itu Maha Esa, tidak ada sekutu baginya. Untuk lebih detailnya, tauhid itu meliputi tujuh macam sikap :
a.       Tauhid zat
     Tauhid zat adalah mengiktikadkan bahwa zat Allah itu Esa, tidak berbilang. Zat Allah hanya dimiliki oleh Allah saja, yang selain-Nya tidak ada yang memilikinya. Manusia dengan keterbatasannya tidak dapat mengetahui wujud zat Allah. Allah mengisahkan bagaimana Nabi Musa ingin melihat-Nya tetapi Musa tidak bisa melihat-Nya. Allah Swt berfirman :


Artinya : Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa : :Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.: Tuhan berfirman : :Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.; Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, ia berkata :Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman: (QS. Al-A,raf (7):143).

b.      Tauhid sifat
     Tauhid sifat adalah mengiktikadkan bahwa tidak ada suatu pun yang menyamai sifat Allah, dan hanya Allah yang memiliki sifat kesempurnaan.
Allah Swt berfirman :



Artinya : (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS. Al-Syura (42):11).
                                                                                                                           
c.       Tauhid wujud
     Tauhid wujud adalah mengiktikadkan bahwa hanya Allah yang wajib ada. Adanya Allah tidak memerlukan kepada yang mengadakan. Allah bersifat abadi, artinya Dialah yang pertama dan yang terakhir. Allah Swt berfirman :


Artinya : Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. ( QS. al-Hadid(57):3).
Berarti hanya Dialah yang abadi. Yang selain Allah disebut mungkin ada, yaitu adanya mengandung sifat tidak ada atau adanya itu berhajat kpada yang mengadakan.

d.       Tauhid af,al
     Tauhid af,al adalah mengiktikadkan bahwa Allah sendiri yang mencipta dan memelihara alam semesta. Allah Swt berfirman :




Artinya : Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya, dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (QS. Al-Furqan (25):2).

     Atas kehendak-Nya pula sesuatu itu hidup dan mati, kemuliaan dan kehinaan, serta kelapangan dan kesempitan (QS. Ali Imron (3): 26-27) ; Allah sendiri yang menetapkan apa yang akan terjadi dan apa yang tidak akan terjai (QS. Al-Taubah (9):51) ; Dia pula yang memegang rahasia kapan saat kehancuran alam semesta akan tiba (Luqman, 31: 34) ; maka Allah-lah tempat segala bergantung (Al-Ikhlas, 112:2) ; dan kepada-Nya tempat menyerahkan segala urusan (Al-Anfaal, 8: 44).

e.       Tauhid ibadah
     Tauhid ibadah adalah mengiktikadkan bahwa hanya Allah saja yang berhak dipuja dan dipuji, serta hanya Allah yang berhak mendapatkan ibadah dari hamba-Nya. Allah Swt berfirmam :

Artinya : Hanya kepada-Mulah kami menyembah dan hanya kepada-Mu-lah kami memohon pertolongan. (QS. al-Fatihah (1): 5)




  Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): "Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya). (Al-Mukminuun, 23:32)

f.       Tauhid qasdi
     Tauhid qasdi adalah mengiktikadkan bahwa hanya kepada Allah segala amal perbuatan ditujukan. Setiap amal harus dilakukan secara langsung tanpa perantara dan ditujukan hanya untuk memperoleh keridaan-Nya (QS. al-Fatihah (1): 5 dan al-An,am (6): 162). Allah berfirman :


:Katakanlah : Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku aku persembahkan semata-mata hanya kepada Allah Rabbul,alamin. (Al-An,am, 6: 162)
     Kalimat tersebut diucapkan oleh seorang muslim paling sedikit lima kali sehari semalam didalam salat. Diluar itu, amal seorang muslim, apa pun bentuknya, selalu dimulai dengan ucapan basmallah dan diakhii dengan hamdalah.
     Setiap muslimin diwajibkan melatih diri menjaga konsentrasi (kekhusyukan) sehingga pikirannya dipenuhi dengan pengagungan terhadap Allah, perasaannya penuh dengan syukur kepada-Nya. Keindahan alam yang dilihat dihayatinya sebagai keindahan pencipta-Nya, kemerduan suara yang didengarnya adalah kemerduan panggilan-Nya. Usaha tersebut diperkuat dengan doa :
: Ya Allah, hanya Engkau yang aku tuju dan keridaan-Mu jua yang aku tuntut. Berilah kepadaku mahabbah dan makrifat  kepada-Mu:

g.      Tauhid tasyri,
     Tauhid tasyri, adalah mengiktikadkan bahwa hanya Allahlah pembuat peraturan (hukum) yang paling sempurna bagi makhluk-Nya. Allahlah sumber dari segala sumber hukum (QS. al-Nisa, (4): 59 ; QS. al-Maidah (5): 44, 47 dan 48). Dalam QS. al-Maidah (5) ayat 48 Allah Swt berfirman :
Artinya : Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (QS. al-Maidah (5): 48).







:Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan para pemimpin (ulil amri) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat mengenai sesuatu, maka kembalikanlah pesoalan itu kepada Allah (Alquran) dan Rasul-Nya (Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Alah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya:. (An-Nisaa, 4: 59)




Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (Al-Maaidah, 5: 47)

C.    Sifat Wajib bagi Allah
            Membuktikan adanya Allah tidak akan sama dengan membuktikan adanya berbagai benda disekitar kita. Adanya (wujud) benda dapat dibuktikan dengan pancaindera manusia. Dapat dilihat, diraba, dapat didengar, dan sebagainya. Namun wujud Allah SWT sangat berbeda, tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba, dan tidak dapat didengar langsung melalui pancaindera. Manusia dapat membuktikan adanya Allah dengan memperhatikan tanda-tanda yang ada di dunia ini. Contohnya, kita dapat melihat adanya bumi dengan segala isinya yang unik, aneh, dan mengagumkan. Kita juga dapat melihat benda angkasa, seperti matahari, bulan, dan bintang. Apakah benda-benda itu terjadi dengan sendirinya
            Coba perhatikan benda-benda disekitar kita seperti rumah, mobil, pesawat. Semua itu kita yakini ada yang menciptakannya, yaitu Allah. Zat Yang Maha Pencipta dan Mahakuasa atas segala sesuatu. Keyakinan kita itulah yang dinamakan iman. Iman adalah meyakini dengan kesungguhan hati bahwa Allah SWT itu ada dengan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya. (Amminudin, dkk, 2004: 24).
            Meyakini akan adanya Allah berarti meyakini pula sifat-sifat wajib bagi Allah. Sifat-sifat Allaah ada 3 yaitu sifat wajib, sifat mustahil dan. Yang dimaksud sifat wajib bagi Allah ialah sifat yang pasti ada dan harus ada pada Allah untuk selama-lamanya. Allah tidak dapat dilihat dengan mata dan tidak dapat diraba dengan pancaindra kita, sebab akal manusia terbatas. Sedangakan sifat mustahil bagi Allah SWT yaitu sifat yang tidak mungkin terjadi .(Amminudin, dkk, 2004: 25).
            Nabi Muhammad SAW bersabda : :Pikirkanlah tentang apa-apa yang telah diciptakan Allah dan janganlah kamu berfikir tentang zat Allah karena kamu tidak akan dapat mencapainya. (HR. Bukhari dan Muslim).:

Tabel Sifat Wajib dan Sifat Mustahil Allah SWT
No.
Sifat Wajib
Tulisan Arab
Maksud
Sifat Mustahil
Tulisan Arab
Maksud
1
Wujud
ﻭﺟﻮﺩ
Ada
Adam
ﻋﺪﻡ
Tiada
2
Qidam
ﻗﺪﻡ
Terdahulu
Huduts
ﺣﺪﻭﺙ
Baru
3
Baqa
ﺑﻘﺎﺀ
Kekal
Fana
ﻓﻨﺎﺀ
Berubah-ubah (akan binasa)
4
Mukhalafatuhu lilhawadis
ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ
Berbeda dengan makhluk-Nya
Mumathalatuhu lilhawadith
ﻣﻤﺎﺛﻠﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ
Menyerupai sesuatu
5
Qiyamuhu binafsih
ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ
Berdiri sendiri
Qiamuhu bighairih
ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻐﻴﺮﻩ
Berdiri-Nya dengan yang lain
6
Wahdaniyat
ﻭﺣﺪﺍﻧﻴﺔ
Esa (satu)
Ta'addud
ﺗﻌﺪﺩ
Lebih dari satu (berbilang)
7
Qudrat
ﻗﺪﺭﺓ
Kuasa
Ajzun
ﻋﺟﺰ
Lemah
8
Iradat
ﺇﺭﺍﺩﺓ
Berkehendak (berkemauan)
Karahah
ﻛﺮﺍﻫﻪ
Tidak berkemauan (terpaksa)
9
Ilmu
ﻋﻠﻢ
Mengetahui
Jahlun
ﺟﻬﻞ
Bodoh
10
Hayat
ﺣﻴﺎﺓ
Hidup
Al-Maut
ﺍﻟﻤﻮﺕ
Mati
11
Sam'un
ﺳﻤﻊ
Mendengar
Sami
ﺍﻟﺻمم
Tuli
12
Basar
ﺑﺼﺮ
Melihat
Al-Umyu
ﺍﻟﻌﻤﻲ
Buta
13
Kalam
ﻛﻼ ﻡ
Berbicara
Al-Bukmu
ﺍﻟﺑﻜﻢ
Bisu
14
Kaunuhu qaadiran
ﻛﻮﻧﻪ ﻗﺎﺩﺭﺍ
Keadaan-Nya yang berkuasa
Kaunuhu ajizan
ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﺟﺰﺍ
Keadaan-Nya yang lemah
15
Kaunuhu muriidan
ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺮﻳﺪﺍ
Keadaan-Nya yang berkehendak menentukan
Kaunuhu mukrahan
ﻛﻮﻧﻪ مكرها
Keadaan-Nya yang tidak menentukan (terpaksa)
16
Kaunuhu 'aliman
ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﻟﻤﺎ
Keadaan-Nya yang mengetahui
Kaunuhu jahilan
ﻛﻮﻧﻪ ﺟﺎﻫﻼ
Keadaan-Nya yang bodoh
17
Kaunuhu hayyan
ﻛﻮﻧﻪ ﺣﻴﺎ
Keadaan-Nya yang hidup
Kaunuhu mayitan
ﻛﻮﻧﻪ ﻣﻴﺘﺎ
Keadaan-Nya yang mati
18
Kaunuhu sami'an
ﻛﻮﻧﻪ ﺳﻤﻴﻌﺎ
Keadaan-Nya yang mendengar
Kaunuhu ashamma
ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺻﻢ
Keadaan-Nya yang tuli
19
Kaunuhu bashiiran
ﻛﻮﻧﻪ ﺑﺼﻴﺭﺍ
Keadaan-Nya yang melihat
Kaunuhu a'maa
ﻛﻮﻧﻪ ﺃﻋﻤﻰ
Keadaan-Nya yang buta
20
Kaunuhu mutakalliman
ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺘﻜﻠﻤﺎ
Keadaan-Nya yang berbicara
Kaunuhu abkam
ﻛﻮﻧﻪ ﺃﺑﻜﻢ
Keadaan-Nya yang bisu

D.    Asmaul Husna
            Sebagai bentuk iman kepada Allah SWT kita juga harus percaya dan mengetahui bahwa Allah mempunyai nama-nama yang agung lagi indah yang dikenal dengan Asmaul Husna sebagaimana firman Allah berikut :



            Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A,raaf (7): 180).
Kemudian, sabda Nabi yang artinya : :Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu, barangsiapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga.: (HR. Bukhari dan Muslim).
Berikut adalah nama-nama Asmaul Husna
No.
Nama
Arab
Indonesia
Allah
الله
Allah
1
Ar Rahman
الرحمن
Yang Maha Pengasih
2
Ar Rahiim
الرحيم
Yang Maha Penyayang
3
Al Malik
الملك
Yang Maha Merajai/Memerintah
4
Al Quddus
القدوس
Yang Maha Suci
5
As Salaam
السلام
Yang Maha Memberi Kesejahteraan
6
Al Mu`min
المؤمن
Yang Maha Memberi Keamanan
7
Al Muhaimin
المهيمن
Yang Maha Pemelihara
8
Al `Aziiz
العزيز
Yang Maha Perkasa
9
Al Jabbar
الجبار
Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
10
Al Mutakabbir
المتكبر
Yang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
11
Al Khaliq
الخالق
Yang Maha Pencipta
12
Al Baari`
البارئ
Yang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
13
Al Mushawwir
المصور
Yang Maha Membentuk Rupa (makhluk-Nya)
14
Al Ghaffaar
الغفار
Yang Maha Pengampun
15
Al Qahhaar
القهار
Yang Maha Memaksa
16
Al Wahhaab
الوهاب
Yang Maha Pemberi Karunia
17
Ar Razzaaq
الرزاق
Yang Maha Pemberi Rezeki
18
Al Fattaah
الفتاح
Yang Maha Pembuka Rahmat
19
Al `Aliim
العليم
Yang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20
Al Qaabidh
القابض
Yang Maha Menyempitkan (makhluk-Nya)
21
Al Baasith
الباسط
Yang Maha Melapangkan (makhluk-Nya)
22
Al Khaafidh
الخافض
Yang Maha Merendahkan (makhluk-Nya)
23
Ar Raafi`
الرافع
Yang Maha Meninggikan (makhluk-Nya)
24
Al Mu`izz
المعز
Yang Maha Memuliakan (makhluk-Nya)
25
Al Mudzil
المذل
Yang Maha Menghinakan (makhluk-Nya)
26
Al Samii`
السميع
Yang Maha Mendengar
27
Al Bashiir
البصير
Yang Maha Melihat
28
Al Hakam
الحكم
Yang Maha Menetapkan
29
Al `Adl
العدل
Yang Maha Adil
30
Al Lathiif
اللطيف
Yang Maha Lembut
31
Al Khabiir
الخبير
Yang Maha Mengenal
32
Al Haliim
الحليم
Yang Maha Penyantun
33
Al `Azhiim
العظيم
Yang Maha Agung
34
Al Ghafuur
الغفور
Yang Maha Pengampun
35
As Syakuur
الشكور
Yang Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36
Al `Aliy
العلى
Yang Maha Tinggi
37
Al Kabiir
الكبير
Yang Maha Besar
38
Al Hafizh
الحفيظ
Yang Maha Memelihara
39
Al Muqiit
المقيت
Yang Maha Pemberi Kecukupan
40
Al Hasiib
الحسيب
Yang Maha Membuat Perhitungan
41
Al Jaliil
الجليل
Yang Maha Mulia
42
Al Kariim
الكريم
Yang Maha Mulia
43
Ar Raqiib
الرقيب
Yang Maha Mengawasi
44
Al Mujiib
المجيب
Yang Maha Mengabulkan
45
Al Waasi`
الواسع
Yang Maha Luas
46
Al Hakiim
الحكيم
Yang Maha Maka Bijaksana
47
Al Waduud
الودود
Yang Maha Mengasihi
48
Al Majiid
المجيد
Yang Maha Mulia
49
Al Baa`its
الباعث
Yang Maha Membangkitkan
50
As Syahiid
الشهيد
Yang Maha Menyaksikan
51
Al Haqq
الحق
Yang Maha Benar
52
Al Wakiil
الوكيل
Yang Maha Memelihara
53
Al Qawiyyu
القوى
Yang Maha Kuat
54
Al Matiin
المتين
Yang Maha Kokoh
55
Al Waliyy
الولى
Yang Maha Melindungi
56
Al Hamiid
الحميد
Yang Maha Terpuji
57
Al Muhshii
المحصى
Yang Maha Mengkalkulasi
58
Al Mubdi`
المبدئ
Yang Maha Memulai
59
Al Mu`iid
المعيد
Yang Maha Mengembalikan Kehidupan
60
Al Muhyii
المحيى
Yang Maha Menghidupkan
61
Al Mumiitu
المميت
Yang Maha Mematikan
62
Al Hayyu
الحي
Yang Maha Hidup
63
Al Qayyuum
القيوم
Yang Maha Mandiri
64
Al Waajid
الواجد
Yang Maha Penemu
65
Al Maajid
الماجد
Yang Maha Mulia
66
Al Wahiid
الواحد
Yang Maha Tunggal
67
Al Ahad
الاحد
Yang Maha Esa
68
As Shamad
الصمد
Yang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
69
Al Qaadir
القادر
Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70
Al Muqtadir
المقتدر
Yang Maha Berkuasa
71
Al Muqaddim
المقدم
Yang Maha Mendahulukan
72
Al Mu`akkhir
المؤخر
Yang Maha Mengakhirkan
73
Al Awwal
الأول
Yang Maha Awal
74
Al Aakhir
الأخر
Yang Maha Akhir
75
Az Zhaahir
الظاهر
Yang Maha Nyata
76
Al Baathin
الباطن
Yang Maha Ghaib
77
Al Waali
الوالي
Yang Maha Memerintah
78
Al Muta`aalii
المتعالي
Yang Maha Tinggi
79
Al Barri
البر
Yang Maha Penderma
80
At Tawwaab
التواب
Yang Maha Penerima Tobat
81
Al Muntaqim
المنتقم
Yang Maha Pemberi Balasan
82
Al Afuww
العفو
Yang Maha Pemaaf
83
Ar Ra`uuf
الرؤوف
Yang Maha Pengasuh
84
Malikul Mulk
مالك الملك
Yang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
85
Dzul Jalaali Wal Ikraam
ذو الجلال و الإكرام
Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86
Al Muqsith
المقسط
Yang Maha Pemberi Keadilan
87
Al Jamii`
الجامع
Yang Maha Mengumpulkan
88
Al Ghaniyy
الغنى
Yang Maha Kaya
89
Al Mughnii
المغنى
Yang Maha Pemberi Kekayaan
90
Al Maani
المانع
Yang Maha Mencegah
91
Ad Dhaar
الضار
Yang Maha Penimpa Kemudharatan
92
An Nafii`
النافع
Yang Maha Memberi Manfaat
93
An Nuur
النور
Yang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94
Al Haadii
الهادئ
Yang Maha Pemberi Petunjuk
95
Al Baadii
البديع
Yang Indah Tidak Mempunyai Banding
96
Al Baaqii
الباقي
Yang Maha Kekal
97
Al Waarits
الوارث
Yang Maha Pewaris
98
Ar Rasyiid
الرشيد
Yang Maha Pandai
99
As Shabuur
الصبور
Yang Maha Sabar

E.     Fungsi Iman Kepan Allah
            Setiap orang yang beriman kepada Allah SWT, termasuk beriman dengan menghayati sifat-sifat Allah SWT dan Asmaul Husna, tentu dalam kehidupan sehari-hari ia akan senantiasa berusaha agar mampu membiasakan diri dengan bersikap dan berperilaku terpuji yang diridhai Allah dan menjauhkan diri dari sikap perilaku tercela yang dimurkai-Nya. Sikap dan perilaku yang dimaksud antara lain :
1.      Berusaha Menjadi Orang Berguna
     Sifat Allah Wujud (ada) sebagai pencipta alam semesta dan segala isinya, tentu yang diciptakan Allah SWT ada manfaatnya. Sifat dan perbuatan Allah SWT seperti tersebut hendaknya mendorong setiap orang beriman (mukmin), untuk selalu berusaha menjadi orang yang berguna, baik bagi dirinya dan keluarganya, maupun bagi bangsa, negara dan agamanya. Rasulullah SAW bersabda : <Orang yang paling baik adalah orang yang hidupnya paling berguna bagi orang banyak.> (Al-Hadis)

2.      Berusaha selalu berbuat baik
     Allah SWT mempunyai sifat Arrahman (Maha Pengasih, pemberi kenikmatan yang agung-agung, pengasih didunia). Dialam dunia ini Allah SWT telah berbuat baik kepada seluruh makhluk-Nya, khususnya umat manusia. Penghayatan terhadap sifat dan nama Allah SWT seperti tersebut hendaknya mendorong setiap orang beriman untuk berusaha agar senantiasa bersikap dan berperilaku baik kepada sesama manusia, tanpa membedakan warna kulit, suku bangsa, bangsa dan agama. Rasulullah SAW berfirman: <orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya, ialah yang terbaik budi pekertinya.> (H.R. Tirmizi)

3.      Berusaha Menjadi Mukmin yang Bertakwa
     Allah SWT wajib bersifat Qudrah (Maha Kuasa) yang menciptakan alam dunia dan segala isinya dan juga menciptakan alam Akhirat, alam tempat membalas amal perbuatan manusia dengan seadil-adilnya. Diakhirat kelak keadilan Allah SWT akan betul-betul ditegakkan. Penghayatan terhadap sifat dan nama Allah SWT seperti tersebut diharapkan dapat mendorong orang-orang beriman untuk betul-betul bertakwa kepada Allah SWT.

4.      Berusaha Agar Lebih Maju
     Allah SWT bernama Al-Alim (Maha mengetahui segala yang berwujud ini, dan tidak ada satu benda pun yang tidak terjangkau oleh ilmu-Nya). Penghayatan terhadap sifat dan nama Allah SWT seperti tersebut diharapkan dapat mendorong orang beriman untuk melakukan usaha-usaha agar ilmu pengetahuannya dalam berbagai bidang terus meningkat kearah yang lebih maju.

5.      Berusaha menjadi Orang yang Lebih Pemaaf
     Salah satu nama Allah SWT yang termasuk Asmaul Husna ialah Algaffar yang berarti Maha Pengampun. Allah SWT tentu akan memaafkan dan mengampuni dosa manusia, apabila manusia yang berbuat salah dan dosa itu betul-betul mohon ampun kepada Allah serta betul-betul bertaubat. Penghayatan terhadap nama Allah SWT Algaffar seperti tersebut dapat menjadikan muslim (muslimah) seorang pemaaf, yang bersedia memaafkan kesalahan orang lain terhadap dirinya. Rasulullah SAW berfirman :
<Tidaklah seseorang memafkan, melainkan Allah tambah kemuliaannya.>(H.R. Muslim)

F.     KESIMPULAN
            Iman kepada Allah merupakan kunci dari iman kepada yang lain, atau merupakan pintu masuk kepada iman kepada yang lain. Iman kepada Allah mencakup iman kepada seluruh firman-Nya. Apabila seseorang telah beriman kepada Allah, maka otomatis ia beriman kepada kitab, malaikat, rasul-Nya, hari kiamat serta qada dan qadar. Degan demikian, iman kepada Allah menjadi awal dan pintu masuk kepada iman-iman kepada yang lainnya itu. Seorang yang beriman kepada Allah akan senantiasa memelihara keakrabannya kepada Allah. Mulutnya akan senantiasa dihiasi dengan berbagai ucapan yang memelihara ikatannya dengan Allah. Misalnya, mengatakan :insya Allah: untuk ucapan janji, :masya Allah: jika mendapat kegagalan dalam usaha, dan :inna lillahi wa inna ilaihi rajiun: jika terkena musibah atau mendengar ada orang meninggal dunia.

DAFTAR PUSTAKA

Aminudin, dkk. (2004). Pendidikan Agama Islam 1 untuk SMP Kelas 1. Jakarta: Bumi Aksara
Azra, Azyumardi, dkk. (2002). Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum. Jakarta: Departemen Agama. Cet. III.
Marzuki.(2012). Pendidikan Karakter Mahasiswa Melalui Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. Yogyakarta: Ombak
Syamsuri.(2007). Pendidikan Agama Islam untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.(2004). Pendidikan Agama Islam SMA. Jakarta: Erlangga
http://www.risalahislam.com/2013/10/asmaul-husna-daftar-tulisan-dan-arti.html. Diakses pada tanggal 19 November 2014 pukul 15:47  WIB
http://www.informasi-pendidikan.com/2013/01/20-sifat-wajib-dan-mustahil-bagi- allah.html. Diakses pada tanggal 19 November 2014 pukul 17:00 WIB
@Tita Trisnawati 

Kumpulan Makalah Lainnya
Silahkan mengunjungi: Kumpulan Makalah

0 comments:

Post a Comment