Gudang Info yang berisi Berita, Cerita, Hiburan, dan Ilmu Pengetahuan

Friday, 13 March 2015

Makalah Pendidikan Agama Islam Tentang Hakikat Pendidikan Islam

ABSTRAK
Pendidikan merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dan, manusia hanya dapat dimanusiakan melalui proses pendidikan. Karena hal itulah, maka pendidikan merupakan sebuah proses yang sangat vital dalam kelangsungan hidup manusia. Tak terkecuali pendidikan Islam, yang dalam sejarah perjalanannya mengalami pasang surut. Eksistensi pendidikan Islam senyatanya telah membuat kita terperangah dengan berbagai dinamika dan perubahan yang ada. 

Tujuan pendidikan Islam yang utama tentu saja menanamkan ajaran tauhid dan akhlak yang mulia kepada peserta didik sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Fungsi pendidikan Islam ini sendiri adalah untuk membentuk insan kamil. Yaitu membentuk peserta didik yang taat beragama.

Walaupun mengalami banyak tantangan dalam proses pengembangan pendidikan Islam ini sendiri, namun eksistensi pendidikan Islam kini sudah sangat terlihat jelas. Terbukti dari melesatnya pertumbuhan pembaharuan pendidikan Islam seperti, makin eksisnya sekolah Keislaman, makin menjamurnya pondok pesanteren, telah banyak berdiri universitas-universitas Islam dan masih banyak lagi.
Makalah Pendidikan Agama Islam Tentang Hakikat Pendidikan Islam
Pendidikan Islam (img: insistnet.com)
Perkembangan yang sangat menggembirakan ini sudah seharusnya kita syukuri. Salah satu caranya adalah dengan mempertahankan eksistensi ini dengan mengedepankan pemilihan pendidikan yang berbasis Islam dibandingkan dengan pendidikan yang berbasis umum. Perkembangan Islam ini tidak pernah lepas dari peran Alloh swt. yang Maha Pemurah lagi Maha penyayang kepada hamba-hamba-Nya.


BAB I
PENDAHULUAN

Eksistensi sebuah pendidikan menjadi salah satu tolak ukur dalam penggolangan suatu bangsa apakah sudah berkembang atau belum. Apabila kualitas pendidikan di suatu bangsa telah memiliki kualitas yang tinggi maka, bangsa itu akan memberikan output sumber daya manusia yang mampu bersaing baik sebagai pelaku pembangunan suatu negara namun juga menjadi manusia yang berkarakter sehingga dapat menjadi seorang khalifah dimuka bumi ini. Untuk menempuh pendidikan pun tidak terbatas waktunya. Ini sesuai dengan sebuah istilah pendidikan sepanjang hayat.

Sejalan dengan empat pilar pembangunan yang dicanangkan oleh UNESCO, yaitu, pertama, learning to know, kedua, learning to do, ketiga, learning to be, dan yang keempat, learning to live together maka mata kuliah ilmu pendidikan Islam sesungguhnya juga dapat dipahami dalam empat pilar tersebut.   Berdasarkan pada empat pilar tersebut, mata kuliah ilmu pendidikan Islam yang selama ini masih pada tataran learning to know, yaitu hanya masih menguasai ilmu, konsep serta teori pendidikan Islamyang digali dari Al-Quran dan Hadis yang belum semaksimal mungkin dikuasai.untuk itu maka perlu diusahakan agar pendidikan Islam dapat dilaksanakan secara efektif dan semaksimal mungkin. Melalui perbaikan metode dan sistem pendidikan.

Pendidikan agama Islam diperguruan tinggi diharapkan mampu berperan sebagai filter terhadap kemungkinan timbulnya dampak negatif dari akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang cepat serta sebagai akibat dari perkembangan zaman.
Pembahasan tentang mungkin tidak akan ada habisnya. Untuk itu penulis memberikan pembatasan pembahasan untuk tulisan ini. Hal-hal yang dibahas dalam tulisan ini diantaranya  pengertian pendidikan Islam, tujuan dan fungsi pendidikan Islam itu sendiri, pentingnya pendidikan Islam, pembaharuan dalam pendidikan Islam serta apa saja yang menjadi tantangan dalam proses pembaharuan Islam itu sendiri.
Tujuan penulis menyusun makalah ini agar pembaca mendapatkan pengetahuan yang lebih tentang pendidikan Islam di era sekarang ini.

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Pendidikan Islam
Secara etimologis, kata “pendidikan”  berasal dari kata “didik”. Dalam bahasa Inggris kita menjumpai kata “to educate”, dan kata “education”. Dalam bahasa Arab terdapat kata “tarbiyah” yang berarti bertambah dan tumbuh.

Sedangkan jika dilihat secara terminonogis pendidikan dapat diartikan merupakan suatu usaha. Agus Basri, dalam bukunya Pendidikan Islami sebagai Penggerak Pembaharuan, menyebutkan bahwa : pendidikan adalah usaha mendorong dan membantu seseorang mengembangkan segala potensinya serta mengubah diri sendiri, dari satu kualitas kepada kualitas lain yang lebih tinggi.

Imam al-Baidlawi didalam tafsirnya, Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, menggatakan “Makna asal ar-Rabb adalah at-Tarbiyah, yaitu menyampaikan sesuatu sedikit demi sedikit hingga sempurna.
Pendidikan Islam merupakan usaha orang dewasa muslim yang bertakwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan kemampuan dasar anak didik melalui ajaran Islam kearah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.

B.    Tujuan Pendidikan Islam
Jika dilihat dari segi kebahasaan, kata tujuan berasal dari akar kata dasar tuju yang berarti arah atau tujuan. Maka tujuan berarti maksud atau sasaran, atau dapat juga berarti suatu yang hendak dicapai. Sedangkan tujuan secara istilah dapat  diartikan sebagai batas akhir yang dicita-citakan seseorang dan dijadikan pusat perhatiannya untuk dicapai suatu usaha.

Tujuan menurut Zakiyah Darajat yang dikutip dalam buku yang bejudul Studi Ilmu Pendidikan Islam  yang ditulis oleh Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan menyebutkan bahwa tujuan merupakan sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai. Sementara menurut HM. Arif yang juga dikutip dari buku yang sama menjelaskan bahwa tujuan itu bisa menunjukkan kepda futuritas (masa depan) yang terletak suatu jarak tertentu yang tidak dapat dicapai kecuali dengan usaha melalui proses tertentu. Jadi secara sederhana yang dimaksud dengan tujuan pendidikan adalah batas akhir yang dicita-citakan akan tercapai melalui suatu usaha pendidikan.

Tujuan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat penting. Ada empat fungsi tujuan pokok pendidikan menurut rumusan Ahmad D. Marimba (1962:45-46) yang dikutip dalam buku Studi Ilmu Pendidikan Islam  yang ditulis oleh Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan yaitu :
a.    Tujuan berfungsi mengakhiri usaha.
b.    Tujuan berfungsi mngarahkan usaha.
c.    Tujuan berfungsi sebagai titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain yaitu tujuan yang baru maupun tujuan lanjutan dri tujuan utama.
d.    Tujuan memberi nilai pada sifat pada usaha itu.
Dari berbagai uraian sebelumnya dapat diketahui bahwa tujuan pendidikan menurut Imam Barnadip (1992:26) yang dikutip dalam buku yang sama secara umum adalah :
a.    Jika pendidikan bersifat progresif, tujuannya harus diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman. Aliran ini dikenal dengan progresivisme.
b.    Jika yang dikehendaki pendidikan adalah nilai yang tinggi, pendidikan pembawa nilai yang ada diluar jiwa anak didik. Sehingga ia perlu dilatih agar mempunyai kemampuan yang tinggi. Aliran ini dikenal dengan esensialisme.
c.    Jika tujuan pendidikan yang dikehendaki agar kembali kepada konsep jiwa sebagai tuntuan manusia, prinsip utamanya ia sebagai dasar pegangan intelektual manusia yang menjadi sarana untuk menemukan evidensi sendiri. Aliran ini dikenal dengan perenialisme.
d.    Menghendaki agar anak didik dibangkitkan kemampuannya secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan masyarakat karena pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi.  Aliran ini dikenal dengan rekonstruksionisme.
Proses pendidikan terkait dengan kebutuhan dan tabiat manusia tidak lepas dari tiga unsur, yaitu jasad, ruh, dan akal. Oleh karena itu, tujuan pendidikan Islam secara umum harus dibangun berdasarkan tiga komponen tersebut. Maka dari sini tujuan pendidikan Islam dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu :

1.    Pendidikan jasmani (al-Tarbiyah al-Jismiyah)
Menurut Basuki dan Ulum (2007:40)  menyebutkan bahwa pendidikan jasmani merupakan usaha untuk menumbuhkan, menguatkan dan memelihara jasmani dengan baik. Sehingga, jasmani mampu melaksanakan berbagai kegiatan dan bebas tanggung jawab yang dihadapinya dalam kehidupan individu dan sosial. Disamping itu juga kebal terhadap berbagai penyakit yang menimpanya.
Terdapat dua sarana untuk membantu keberhasilan pendidikan jasmani yaitu, sarana pendidikan jasmani yang bersifat aktif, meliputi makanan yang sehat, udara segar, gerak badan atau olahraga serta sarana pendidikan jasmani yang bersifat pasif, seperti kondisi ruang kelas yang sehat dan kondusif, jumlah peserta didik dalam kelas yang tidak terlalu banyak.

2.    Pendidikan akal (al-Tarbiyah al-‘Aqliyah)
Pendidikan akal adalah peningkatan pemikiran akal dan latihan secara teratur untuk berpikir benar. Pendidikan intelektual akan mampu memperbaiki pemikiran tentang ragam pengaruh dan realitas secara benar dan tepat. Hal semacam ini akan menghasilkan suatu keputusan atas segala sesuatu secara benar dan tepat pula. Ada beberapa cara untuk mencapai keberhasilan pendidikan intelektual seperti, melatih perasaan peserta didik untuk meningkatkan kecermatannya, melatih peserta didik untuk mengamati sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat, melatih daya intuisi sebagai sarana penting daya cipta dan membiasakan anak berpikir sistematis dan menanamkan kecintaan berpikir sistematis.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan akal berkaitan dengan perhatiannya dengan perkembangan inteligensi yang mengarahkan menusia sebagai individu untuk menemukan kebenaran yang sesungguhnya yang mampu memberi pencerahan diri. Memahami pesan ayat-ayat Allah akan membawa iman kepada sang Pencipta.

3.    Pendidikan akhlak (al-Tarbiyah al-Khuluqiyah)
Akhlak mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam yaitu untuk mencapai keridhaan Allah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dari sahabat Umar Ibn al-Khattab, menjelaskan tentang sendi-sendi agama yang bertumpu pada tiga komponen yaitu, iman Islam dan ihsan. Ketiganya merupakan suatu sisitem yang dalam praktiknya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya tetapi merupakan suatu totalitas untuk mewujudkan akhlakul karimah dalam setiap perilaku manusia pada berbagi aspek kehidupan.
Pembentukan akhlak ini merupakan tujuan utama dari pendidikan Islam. Islam mencita-citakan agar peserta didik mampu membentuk akhlak mulia serta budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang bermoral, cita-cita yang benar dan akhlak yang tinggi, mengetahui kewajiban dan pelaksanaannya, menghormati hak-hak manusia, dapat membedakan buruk dan baik serta mengingan Allah di setiap melakukan pekerjaan.

C.    Fungsi Pendidikan Islam
Fungsi pendidikan Islam dapat dilihat secara mikro maupun makro. Fungsi pendidikan Islam secara mikro diantaranya memelihara dan mengembangkan fitrah dan sumberdaya manusia seutuhnya sesuai dengan norma Islam, atau dapat diartikan membentuk kepribadian seorang muslaim. Sedangkan fungsi pendidikan Islam secara makro dapat dilihat dari fenomena yang muncul dan berkembang peradaban manusia, yang berpendapat bahwa peradaban manusia senantiasa tumbuh dan berkembang melalui pendidikan.
Keleluasaan interaksi manusia semakin bertambah dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi. Berbagai macam informasi dapat diakses secara cepat sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan sehingga dapat semakin maju pula pemikirannya.

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa adanya tiga fungsi pendidikan islam yaitu :
1.    Mengembangkan wawasan anak didik mengenai dirinya dan alam sekitarnya, sehingga akan tumbuh kreativitas.
2.    Melestarikan nilai-nilai insani yang akan menuntun jalan kehidupan sehingga keberadaannya akan lebih bermakna.
3.    Membuka pintu ilmu pengetahuan dan keterampilan yang sangat bermanfaat bagi peradaban manusia.
Al-Quran pun secara eksplisit menyebutkan fungsi pendidikan islam yang terkandung dalam surat al-Baqarah ayat 151 yang artinya sebagai berikut :
“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami telah mengutus kepadamu Rosul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”
Berdasarkan ayat diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi pendidikan Islam diantaranya :
1.    Mengembangkan wawasan yang tepat dan benar mengenai jati diri manusia, alam sekitarnya dan mengenai kebesaran ilahi, sehingga timbul kreativitas yang benar.
2.    Mensucikan fitrah manusia dari syirik dan berbagai sikap hidup yang dapat mengkontaminasi fitrah kemanusiaannya.
3.    Mengembangkan ilmu pemgetahuan untuk memajukan peradaban manusia.

D.    Tantangan Pendidikan Islam
Sekarang ini dunia pendidikan Islam sedang dihadapkan dengan berbagai tantangan. Dua diantaranya yaitu, pertama, tantangan globalisasi yang tidak dapat dihindari. Tetapi kita harus menyikapinya sengan dewasa. Al-Quran dapat menjadi rujukan bagi umat Islam untuk mempelajari lebih lanjud kandungan ilmu pengetahuan di dalamnya guna membekali diri sehingga siap dalam menghadapi kemajuan peradaban Islam.
Kedua, kita sering menduga bahwa pintu ijtihat sudah tidak dapat dibuka kembali. Ijtihat merupakan usaha dengan sungguh-sungguh dalm menyelesaikan masalah dalam hukum Islam, ijtihat digunakan dalam mencari kepastian hukum karena perkembangan masyarakat yang semakin cepat.

E.    Pembaharuan Pendidikan Islam
Dinamika dialektika antara konservatisme yang selalu menengok ke masa lalu , dan progresivisme yang selalu ingin merekonstruksi Islam untuk masa depan, merupakan agenda rutin umat islam sepanjang sejarah. Karenanya tidak mengherankan ketika istilah “pembaharuan” dikemukakan, sikap umat Islam pada umumnya ragu-ragu dan dan mendua, antara “setuju” dengan menganggap hal itu sebagai kebutuhan dan keniscayaan historis, dan “enggan” karena dianggap akan mengancam otentitas dan wibawa doktrin agama. 
Menurut Sir Muhammad Iqbal dalam bukunya The Recontruction of Religius Religoius Thought of Islam (1981:146) menyebutkan bahwa islam menolak pandangan-pandangan kuno yang statis dan bahkan mendorong pandangan-pandangan yang sangat dinamis.
Hubungan pembaharuan atau yang sering disebut dengan modernisasi dengan pendidikan sebenarnya terletak pada “bahwa pendidikan merupakan kunci yang membuka pintu kearah modernisasi”, walaupun pada segi lain pendidikan sering dianggap sebagai objek modernisasi. Pendidikan dalam masyarakat modern atau masyarakat yang tengah bergerak kearah modern, pada dasarnya berfungsi untuk memberi keterkaitan antara anak didik dengan sosiokultural dilingkungannya yang sedang mengalami perubahan. Dalam berbagai hal, pendidikan sengaja dipakai sebagai alat perubahan dalam sistem politik dan ekonomi.
Sebagaimana dikutip Abudin Nata, bahwa Shipman menyimpulkan tentang fungsi pokok pendidikan dalam masyarakat modern terdiri dari tiga bagian yaitu sosialisasi, penyekolahan dan pendidikan.  Menurut Ibnu Taimiyah, secara umum pembaharuan ditimbulkan oleh beberapa hal berikut ini :
1.    Membudayakan khurafat dikalangan kaum muslim.
2.    Kejumudan taklid dianggap telah membodohkan umat Islam.
3.    Terpecahnya persatuan umat Islam sehingga sulit membangun dan maju.
4.     Kontak antara Barat dan Islam telah menyadarkan kaum muslimin akan kemundurannya.
Modernisasi yang mengandung pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah suatu pemahaman, adat istiadat, institusi lama, agar semuanya itu bisa dapat disusaikan dengan pendapat dan keadaan baru yang timbul oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju. Karena kata modernisasi yang bersumber dari Barat mengandung makna negatif, kata modernisasi lebih dikenal luas dengan pembaharuan. Modernisasi dengan pembaharuan juga berarti proses pergeseran sikap dan mentalitas mental sebagai masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan hidup masa kini.  Dapat disimpulkan bahwa modernisasi Islam adalah proses penyesuaian pendidikan Islam dengan kemajuan zaman.
Masa awal pembaharuan Islam dimulai dengan diterimanya warisan filsafat dan ilmu pengetahuan Islam oleh bangsa Eropa, kemudian Umat Islam sudah tidak memperhatikannya lagi, maka secara perlahan telah membangkitkan kekuatan di Eropa dan menimbulkan kelemahan di kalangan umat Islam. Sehingga kekuasaan umat Islam pun ditundukkan oleh bangsa Eropa yng mengakibatkan terjadinya penjajahan dimana-mana. Eksploitasi kekayaan dunia pendidikan Islam pun semakin memperlemah kedudukan umat Islam dalam segala sendi kehidupan. Kekalahan Islam ini ditandai dengan jatuhnya Mesir ke tangan bangsa Barat.kekalahan ini mendorong para pemimpin mereka untuk menyelediki penyebab kekalahan ini dan keunggulan lawan. Mereka mulai memperhatikan kemajuan yang dicapai oleh Eropa, terutama Prancis yang merupakan pusat kebudayaan mereka pada saat itu.
Kemajuan yang dicapai bangsa Barat pun berdampak pada bangkitnya kembali umat Islam. Misalnya dalam ilmu pengetahuan modern, pada tahun 1727 M didirikan suatu percetakan di Istambul untuk pertama kalinya. Ini dilakukan untuk mencetak berbagai macam buku yang diterjemahkan dari bangsa Barat. Disamping itu, dari pihak ulama dan golongan tentara yang sudah ada sebelumnya, yang dikenal dengan pasukan Yanisen, terlalu kuat sehingga usaha pembaharuan tersebut tidak dapat berkembang.  Pembaharuan secara historis berawal ketika penaklukan Mesir  oleh Napoleon Bonaparte pada tahun 1798, sehingga masa ini menjadi tonggak sejarah bagi umat Islam untuk mendapatkan kesadaran kembali akan keterbelakangan mereka. Ekspedisi Napoleon tersebut bukan hanya menunjukkan kelemahan umat Islam, tetapi juga kebodohan mereka. Ekpedisi ini dilakukan untuk membawa peralatan ilmiah ke Mesir untuk mengadakan penelitian disana.    Hal ini menurut Zuhairini dkk, membuka mata kaum muslimin akan kelemahan dan keterbelakangannya, sehingga akhirnya timbullah berbagai macam usaha pembaharuan dalam segala bidang kehidupan, termasuk mengejar ketertinggalan dalam bidang pendidikan.  Kemajuan di bidang alat-alat komunikasi modern telah mendekatkan Mesir ke Eropa.  Al-Azhar menjadi tempat penelitian yang dilakukan oleh Napoleon Bonaparte. Perkembangan Al-Azhar ini ditandai dengan adanya sistem pendidikan yang mengubah sistem pendidikan yang diatur sebelumnya. Sistem tersebut diantaranya :
1.    Untuk mata kuliah tertentu terdapat guru besar. Mahasiswa berusaha mendampingi guru besar hingga ia meninggal dunia. Tujuannya untuk mencapai tingkat ketinggian ilmiah seperti yang dimiliki gurunya.
2.    Mahasisiwa mungkin mendapatkan ijazah untuk mata kuliah tertentu sedangkan mata kuliah lain ditunda. Mahasiswa dapat menjadi guru pada mata kuliah yang lulus dan menjadi murid pada mata kuliah yang belum lulus.
3.    Setiap mahasiswa yang mempunyai kemampuan untuk mata kuliah tertentu diberikan kessempatan untuk mengajarkannya dan memfatwakan ilmu yang bersangkutan, maka ia berhak memperoleh ijazah.
4.    Setiap mahasiswa dibebaskan memilih mata kuliah yang diminatinya tanpa terkait dengan daftar kehadiran.
Perkembangan Al-Azhar selanjutnya dilakukan oleh Syaikh Muhammad Abbasi Al-Mahdi Al-Hanafi, rektor Al-Azhar ke 21 yaitu pada bulan Februari 1872 memasukkan sistem ujian untuk mendappatkan ijazah Al-Azhar. Calon ‘alim berhadapan dengan satu tim yang beranggotakan enam orang syaikh yang bertugas mengujinya. Materi yang diujikan biasanya berkenaan dengan ushul, fiqih, tauhid, tafsir, hadis, dan ilmu bahasa.
Sedangkan pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia dimulai dengan pada awal abad ke 20 terjadi beberapa perubahan dalam Islam di Indonesia yang dalam garis besarnya dapat digambarkan sebagai kebangkitan, pembaharuan, bahkan pencerahan. Perubahan ini berbeda sifat dan asalnya, serta tidak berhubungan secara harmonis. Faktor pendorong bagi perubahan Islam di Indonesia pada permulaan abad ini dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu :

1.    Sejak tahun 1990 di beberapa tempat muncul keinginan untuk kembali kapada Al-Quran dan Sunnah yang dijadikan titik tolak untuk menilai agama dan kebiasaan yang ada. Tema sentral dan kecenderungan ini adalah menolak taklid.
2.    Dorongan kedua adalah sifat perlawanan masional terhadap penguasaan kolonial Belanda.
3.  Dorongan ketiga adalah usaha yang kuat dari orang-orang Islam untuk memperkuat organisasinya dibidang sosial dan ekonomi, baik untuk kepentingan mereka sendiri maupun untuk kepentingan rakyat banyak.
4.    Dorongan keempat berasal dari pembaharuan dan pendidikan Islami.
Pendidikan Islam sebelum tahun 1990 masih bersifat halaqah (non-klasikal). Selain itu madrasah-madrasah tidak besar seperti sekarang. Ada sebuah pesantren yang diketahui dibangun oleh KH. Hasyim Asy’ari yang diberi nama pesantren Tebuireng yang berdiri sebelum tahun 1990.  Perkembangan pesantren di Indonesia sebenarnya tidak lepas dari interaksi umat Islam di Indonesia dengan Timur Tengah. Banyak alumni Mekah yang mempelopori berdirinya pesantren dan sekolah-sekolah di Indonesia.
Metode pengajarannya umumnya didominasi oleh sistem sorogan, dimana guru membaca kitab yang berbahasa Arab dan menerangkannya dalam bahasa daerah, kemudian murid-murid mendengarkan. Secara umum kurikulum yang ditetapkan oleh lembaga pendidikan Islami sampai tahun 1930 meliputi ilmu bahasa Arab dengan tata bahasanya, fiqih, akidah, akhlak dan pendidikan.
Pola pembaharuan pendidikan Islam yang dimiliki oleh beberapa kelompok sangat berbeda antara yang satu dengan yang lainnya diantaranya :
1.    Golongan yang berorientasi pada pola pendidikan Barat.
2.    Gerakan pembaharuan pendidikan Islami yang berorientasi pada sumber Islam.
3.    Pembaharuan pendidikan yang berorientasi pada nasionalisme.

F.    Pentingnya Pendidikan Islam
Pendidikan Islam dalam kurikulum sekolah dimaksudkan sebagaimana apa yang dipelajari dalam berbagai periode ajaran. Isinya biasanya mencakup pendidikan Al-Quran, Tauhid, Hadis, Fiqih, Tafsir, Kebudayaan Islam, dan Sejarah Perjalan Nabi Muhammad saw.
Berbagai isi ini digunakan untukm menyempurnakan pendidikan anak supaya benar-benar menjadi seorang muslim dalam segala sendi kehidupannya, merealisasikan ubudiyah kepada Allah swt. dan dengan segala dampaknya, seperti dampak di dalam kehidupan, akidah, akal, dan pikiran.
1.    Pendidikan dengan Al-Qurqn dan Tujuannya
Tujuan yang ingin segera diraih dari pendidikan dengan menggunakan Al-Quran adalah mampu membacanya dengan baik, memahaminya dengan baik dan menerapkan segala ajaran yang terkandung didalamnya. Disini terkandung segala ubudiyah dan ketaatan kepada Allah, mengambil petunjuk dari kalam-Nya, taqwa kepada-Nya, melaksanakan segala perintah-Nya dan tunduk kepada-Nya.
Dengan kata lain jika pelajaran yang terkandung dalam Al-Quran telah mampu direalisasikan segala tujuannya maka akan menjadi salah satu cara terbaik untuk merealisasikan tujuan tertinggi pendidikan Islam.

2.    Pendidikan dengan Mengikuti Rosul
Dengan mengikuti Rosul-Nya dan melaksanakan ibadah, mu’amalah serta segala urusan hidup berdasarkan petunjuk Rosul yang diutus oleh Allah untuk ditaati berarti kita telah menyempurnakan ubudiya kepada Allah. Maka dapat diketahui bahwa tujuan pelajaran hadis dan perjalanan hidup Nabi adalah untuk mengikuti Rosullulah saw. Sehingga, ubudiyah dan ketundukan kepada Allah hanya akan dapat terealisasi jika kita mengikuti petunjuk Nabi Muhammad saw. dalam segala ibadah, ketaatan dan urusan hidup. Hal inilah yang harus dicapai dari pelajaran hadis dan perjalanan hidup Nabi.

3.    Pendidikan Keimanan dalam Pelajaran Tauhid
Keimanan kita akan bertambah dengan menjalankan ketaatan, membaca Al-Quran dan merenungkan dampak rahmat Allah terhadap alam. Sedangkan asas keimanan adalah memahami rukunnya, menyadari serta membenarkan dan menyakini maknanya dengan penuh keyakinan. Keyakinan ini akan melahirkan ketentraman jiwa dan kelurusan tingkah laku berdasarkan makna keimanan yang dibenarkan dalam hati.
Pendidikan keimanan dimulai dengan menjelaskan tujuan tertinggi pendidikan Islam, yakni menjelaskan makna uludiyah, Rubudiyah, dan makna ubudiyah manusia kepada Allah. 

BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Pendidikan Islam merupakan segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumberdaya insani yang ada padanya, menuju terbentuknya manusia seutuhnya sesuai dengan norma Islam (Achmadi, 1992 : 19) .
Pendidikan memiliki tujuan utama yakni membentuk insan kamil yang cerdas serta memiliki karakter keIslaman sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Hadis. Sedangkan fungsi pendidikan Islam diantaranya memelihara dan mengembangkan fitrah dan sumberdaya manusia seutuhnya sesuai dengan norma Islam.
Kini untuk mengembangkan pendidikan Islam ini terdapat beberapa tantangan yang harus kita lalui, diantaranya tantangan globalisasi yang tidak dapat dihindari serta dugaan bahwa pintu ijtihat sudah tidak dapat dibuka kembali. Pembaharuan pandidikan Islam ini dapat dimulai dengan diri kita sendiri, yaitu dengan lebih bertaqwa kepada Tuhan. Dengan begitu kita akan bisa ikut berpartisipasi dalam pembaharuan Islam dalam berbagai aspek kehidupan.

B.    Saran
Kita sebagai manusia yang selalu haus akan ilmu pengetahuan sedianya harus selalu ikut berpartisipasi dalam pembaharuan pendidikan Islam pada saat ini. Berbagai tantangan harus kita hadapi serta pembaharuan pendidikan Islam ini harus kita terima dengan tangan terbuka sehingga kita dapat memperoleh banyak manfaat yaitu berupa perkembangan ilmu pengetahuan maupun teknologi yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan pada masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
1.    Salim, Moh Haitami dan Syamsul Kurniawan. 2012. Studi Pendidikan Islam. Yogyakarta : Ar-Ruz Media.
2.    Basri, Agus. 1984. Pendidikan Islami sebagai Penggerak Pembaharuan. Bandung : Al Ma’arif.
3.    an-Nahlawi, Abdurrahman. 1992. Prinsip-prinsip dan Metoda Pendidikan Islam. Bandung : CV. Diponegoro.
4.    Sudrajad, Ajad, dkk. 2013. Din Al-Islam. Yogyakarta : UNY Press.
5.    Engku, Iskandar dan Siti Zubaidah. 2014. Sejarah Pendidikan Islam. Bandung : Rosda.
6.    Arifin, H.M. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
7.    Sadali, H.A. 1984. Islam untuk Disiplin Ilmu Pendidikan. Jakarta : DEPAG.
(Oleh: Riska Rahmawati)

Kumpulan Makalah Lainnya
Silahkan mengunjungi: Kumpulan Makalah

0 comments:

Post a Comment