Gudang Info yang berisi Berita, Cerita, Hiburan, dan Ilmu Pengetahuan

Thursday, 12 February 2015

Makalah Pendidikan Agama Islam Tentang Islam, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

ISLAM, ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI


Abstrak
 Pengembangan iptek didasarkan kepada ketaatan kepada perintah Allah untuk mendapatkan petunjuk-Nya. Ilmu pengetahuan dan teknologi harus dikembangkan tanpa mengenyampingkan kekuasaan Tuhan dan petunjuk-Nya di dalam al Qur’an. Karena akal selalu akan berkembang dalam keseimbangan dengan  iman. Maka mereka yang mempunyai iman akan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan norma-norma agama dan petunjuk Allah SWT.
Al Qur’an sebagai kitab panduan umat manusia memuat ratusan ayat yang mengungkapkan tentang ilmu, mengajak manusia untuk berfikir dan melakukan penalaran (mengamati, memperhatikan, memikirkan, dan menyelidiki dengan seksama). Selain itu, Al Qur’an tidak bertentangan dan tidak akan berseberangan dengan hakikat ilmu pengetahuan. Akal manusia akan terus didorong oleh Al Qur’an untuk mendalami ilmu pengetahuan.
Makalah Pendidikan Agama Islam Tentang Islam, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
 Islam, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (blogspot.com)
A.    Pendahuluan
Manusia merupakan mahluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna, yang membedakan kesempurnaan manusia dengan mahluk-mahluk lainnya adalah akal, Allah SWT membekali akal bagi manusia untuk keberlangsungan hidupnya, sehingga sesuai dengan tujuan diciptakannya manusia yaitu sebagai khalifah bumi, yang membawa misi Rahmatan lil’alamin (kasih sayang bagi seluruh alam). Dengan akal pikiran yang telah diberikan oleh Allah SWT, islam sejatinya menuntut manusia untuk mengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang harus mengangkat harkat dan martabat kehambaan kepada Allah dan membenarkan dirinya sebagai khalifah Allah dimuka bumi, yaitu dengan jalan mencari ilmu pengetahuan. Sebagaimana yang terdapat dalam sabda-sabda Rasul-Nya, yaitu Muhammad SAW, yang mengumandangkan kewajiban mencari ilmu bagi umat Muslim. Rasulullah SWA memprioritaskan umatnya untuk mencari ilmu syar’i, yaitu demi pembentukan sikap dan prilaku yang mengandung unsur Akhlakul Karimah. Dalam meraih ilmu pengetahuan dan teknologi  dalam persepsi islam, harus selalu bergandengan dengan aspek ketauhidan.
Di dalam al Qur’an tidak hanya diletakkan dasar-dasar  peraturan hidup manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Sang Pencipta, dalam interaksinya dengan sesama manusia, dan dalam tindakannya terhadap alam disekelilingnya, tetapi juga dinyatakan untuk apa manusia diciptakan. Di dalam al Qur’an disebutkan juga secara garis besar tentang kejadian alam semesta dan berbagai proses tentang kealaman lainnya, tentang penciptaan makhluk hidup, termasuk manusia yang didorong hasrat ingin tahunya, dipacu akalnya untuk menyelidiki segala apa yang ada di sekelilingnya, meski pun al Qur’an bukan buku pelajaran biologi atau sains pada umumnya. Dalam kaitan ini al Qur’an senantiasa menyeru manusia untuk memperhatikan alam semesta dan memikirkannya sehingga akan muncul ketakjuban terhadap keunikan dan kedahsyatan alam ini dan pada akhirnya akan menyampaikan manusia pada kepercayaan bahwa yang menciptakan ini semua adalah Yang Maha Agung dan Maha Berilmu.
 Berkenaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin meningkat, wajar jika derajat pencapaian iptek  menurut islam, berada pada posisi yang terhormat dan dimuliakan oleh Allah.  Maka dari itu, pada pembahasan ini akan dikaji pandangan Islam tentang ilmu pengetahuan dan teknologi demi meningkatkan pemahaman Islam  secara menyeluruh, dan juga demi kemajuan umat Islam dalam segala bidang ilmu.

A.    Islam dan ilmu pengetahuan
1.    Ilmu pengetahuan dalam Al Qur’an

Kata ilmu berasal dari bahasa Arab  ‘ilm  yang berarti pengetahuan. Kata ‘ilm memiliki kemiripan dengan kata  ma’rifah,  fiqh,  hikmah,  dan  syu’ur. Dari segi bahasa ilmu berarti jelas. Sedangkan ilmu dalam pengertian merupakan pengetahuan ilmiah sekalipun juga merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi disertai dengan memperhatikan objek yang ditelaah, cara yang dipergunakan dan kegunaannya. (Tim Departemen Agama RI. 2004:1)
Al Qur’an adalah kitab yang memuat berbagai informasi, sebagai isyarat- isyarat yang kadang jelas dan terang benderang pengertian dan maknanya, tetapi terkadang berupa kata-kata yang samar dan belum terpecahkan makna yang dikandungnya, atau belum ditemukan arti yang yang pas dan cocok, malah ada kata yang sulit dimengerti, yang belum mampu diterjemahkan pada waktu ini.

Allah menyatakan :
هُوَ الَّذِىۡۤ اَنۡزَلَ عَلَيۡكَ الۡكِتٰبَ مِنۡهُ اٰيٰتٌ مُّحۡكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الۡكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ‌ ‏
Artinya: “Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al Qur’an) kepada kamu. Diantara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhlkamal , itulah pokok-pokok isi al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat”.(QS. Ali Imran  (3) : 7)

Kini banyak sekali dari ayat-ayat al Qur’an yang membuktikan kebenaran Allah dalam al Qur’an . tetapi al Qur’an terus memacu manusia untuk terus mencari tahu, menemukan ilmu baru dan menerapkannya dalam bentuk teknologi.
Kalimat “iqra”, yang diartikan sebagai perintah membaca, pada ayat yang pertama kali al Qur’an diturunkan , sudah merupakan petunjuk yang amat kuat bahwa al Qur’an sangat konsen dan peduli terhadap ilmu pengetahuan. Orang- orang yang berkecimpung dibidang ilmu pengetahuan, baik yang mencari, memberi maupun kalangan yang mengembangkan pendidikan dipuji dan dijanjikan oleh Allah suatu martabat yang tinggi.

Manusia bukan hanya dituntut untuk menguasai bumi , malah ditantang untuk menerobos langit , dan makhluk ini memang juga diberi potensi-potensi untuk keluar batas-batas bumi agar dapat mengamati alam semesta sebagai tanda- tanda kebesaran Penciptanya. Allah menganjurkan kepada jin dan manusia untuk mencoba meningkatkan kemampuannya supaya dapat menjelajahi jarak-jarak yang sangat jauh dan yang sulit sekali ditempuh kemana saja termasuk juga ke langit. Untuk maksud itu maka Allah mengingatkan akan pentingnya persediaan daya dan kekuatan (ilmu, alat-alat dan tenaga) yang cukup supaya perjalanan itu tidak mebahayakan dan membinasakan. (Tim Departemen Agama RI, 2004 : 132)
Dari uraian-uraian diatas, betapa sulitnya pengembangan sains. Jika kita harus mengembangkan sains, kita harus ingat untuk tidak melanggar akidah dan aturan agama. Hendaknya pengembangan iptek didasarkan kepada ketaatan kepada perintah Allah untuk mendapatkan petunjuk-Nya. Ilmu pengetahuan dan teknologi harus dikembangkan tanpa mengenyampingkan kekuasaan Tuhan dan petunjuk-Nya di dalam al Qur’an. Karena akal selalu akan berkembang dalam keseimbangan dengan  iman, maka mereka yang mempunyai iman akan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan norma-norma agama dan petunjuk Allah SWT.

2.    Kedudukan ilmu pengetahuan

Kedudukan ilmu pengetahuan dalam islam adalah hal yang sangat pokok. Al Qur’an sebagai kitab panduan umat manusia memuat ratusan ayat yang mengungkapkan tentang ilmu, mengajak manusia untuk berfikir dan melakukan penalaran (mengamati, memperhatikan, memikirkan, dan menyelidiki dengan seksama). Selain itu, al Qur’an tidak bertentangan dan tidak akan berseberangan dengan hakikat ilmu pengetahuan. Akal manusia akan terus didorong oleh al Qur’an untuk mendalami ilmu pengetahuan.
Kedudukan ilmu pengetahuan dalam perspektif  islam, dapat diuraikan sebagai berikut:
a.    Manusia diangkat sebagai khalifatullah (penguasa), dan dibedakan dari makhluk lain karena ilmunya. Beberapa kali Allah mengaitkan penciptaan manusia dengan kemampuannya untuk memiliki dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tugas manusia harus dapat menggali potensi diri untuk dapat menguasai ilmu dan teknologi dengan tujuan dapat memahami, mengungkapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
b.    Hakikat manusia tidak terpisah dari kemampuannya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan . ilmu yang disertai iman adalah ukuran derajat manusia. Ilmu dapat mengangkat dan meninggikan derajat manusia, juga dapat memperluas cakrawala serta memperkaya bahan pertimbangan dalam menentukan setiap sikap dan tindakan yang diambilnya.
c.    Al Qur’an diturunkan dengan ilmu Allah  dan hanya dapat direnungkan atau dimengerti maknanya oleh orang- orang yang berilmu. Al Qur’an hanya jelas bagi orang-orang yang berilmu. Untuk memperoleh petunjuk dari al Qur’an bukan saja diperlukan ketakwaan dan keimanan tetapi juga ilmu pengetahuan.
d.    Al Qur’an memberikan isyarat bahwa yang berhak memimpin umat ialah yang memiliki pengetahuan.
e.    Allah melarang manusia mengikuti suatu perbuatan tanpa memiliki ilmu mengenainya. Disini islam menuntut agar manusia tidak bersikap dan bertindak kecuali berdasarkan ilmu. Semakin banyak seseorang memiliki ilmu, akan semakin lebih menyempurnakan kehidupannya dan semakin mudah meneliti menuju kebenaran mutlak. (Muhammad Alim, 2006 : 208)

3.    Sumber ilmu pengetahuan
Pengetahuan manusia diperoleh dari 2 arah, yaitu dari atas dan dari bawah. Dari atas maksudnya dari wahyu yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, sedangkan dari bawah maksudnya dari realitas yang ada di alam ini melalui pengamatan, pendengaran, perasaan dan pengalaman. Wahyu mengandung pengetahuan yang tak terhingga, yang tak pernah habis dikaji sekalipun manusia melakukan pengkajian sepanjang sejarah kehidupannya.
Berkaitan dengan masalah sumber ilmu pengetahaun, ada 4 sumber  yang ditunjukkan Al Qur’an untuk memperoleh pengetahuan bagi manusia antara lain:
a.    Al Qur’an dan Assunah. Keduanya merupakan sumber pertama ilmu pengetahuan. Al Qur’a mengingatkan manusia untuk memikirkan ayat-ayatnya dan mengambil pelajaran darinya, serta mengingatkan manusia untuk menjadikan Rasul sebagaisuri tauladan. Tentang Assunah,seorang mukmin diharuskan mengambil pelajaran dari Sunnah Rasul-Nya.
b.    Alam semesta. Al Qur’an menyuruh manusia memikirkan keajaiban-keajaiban ciptaan Allah. Al Qur’an menunjukkan kepada manusia mengenai alam semesta dengan beragam bentuk dan jenis benda untuk diteliti.
c.    Manusia adalah sumber ketiga ilmu. Selain ayat-ayat al Qur’an melukiskan penciptaan manusia secara biologis, juga banyak yang melukiskan watak manusia sebagai individu. Dari studi tentang manusia ini banyak melahirkan berbagai disiplin keilmuan,  antara lain: psikologi, kedokteran, dll.
d.    Sejarah umat manusia. Meskipun Al Qur’an bukanlah buku sejarah tetapididalamnya termuat hukum sejarah , hukum Allah tentang sejarah kemanusiaan. Didalamnya juga terdapat pola sejarah kemanusiaan dari zaman Nabi Adam hingga sejarah manusia akhir zaman. (Muhammad Alim, 2006 : 208 )

4.    Tujuan dan penggunaan ilmu pengetahuan

Agama Islam sangat mendukung umatnya untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Karena dengan menguasai ilmu pengetahuan serta perenungan yang mendalam tentang hakikat keesaan serta kebesaran Allah SWT akan banyak hal yang diperoleh.
Tujuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam Al Qur’an disamping untuk mencapai suatu kebenaran juga sebagai petunjuk juga mengandung hikmah untuk kesejahteraan manusia. Kegunaan ilmu pengetahuan antara lain:
a.    Menunjukkan kebenaran
b.    Mengenal kebaikan
c.    Meningkatkan kemakmuran/ kesejahteraan
d.    Meningkatkan harkat dan martabat manusia
e.    Menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran hak dan kewajiban
f.    Meningkatkan rasa percaya diri
g.    Meningkatkan produktivitas kerja
h.    Memperoleh amal jariyah apabila diamalkan
i.    Memiliki keunggualan hidup dunia dan akhirat

B.    Pengembangan teknologi dalam islam
1.    Pengertian teknologi
Teknologi (technology) terdiri dari kata technique dan logie. Technique , secara harfiah berarti rancang bangun tentang sesuatu, sedangkan logie berarti ilmu pengetahuan. Dengan demikian, teknologi secara harfiah adalah ilmu tentang teknik. Teknologi adalah perpaduan antara teknik dan ilmu pengetahuan atau penggunaan ilmu pengetahuan yang mendasari teknik atau penggunaan teori-teori ilmu pengetahuan dalam rancang bangun tentang sesuatu. ( Abuddin Nata, 2010 : 243 )
Pengertian teknologi yang lain adalah kemampuan teknik dalam pengertiannya yang utuh dan menyeluruh, bertopang kepada pengetahuan ilmu-ilmu alam yang bersandar kepada proses teknis  tertentu. (Tim Departemen Agama RI, 2004 : 45)
Dalam pembahasan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari segi Islam , sudah selayaknya bila kita meneliti kembali sumber ajarannya yaitu al Qur’an mengenai hal tersebut. Karena “pengembangan”  merupakan suatu rangkaian kegiatan yang mempunyai tujuan. (Achmad Baiquni, 1996 : 65)


2.    Motivasi islam dalam pengembangan teknologi

Apabila kini orang mengatakan ilmu pengetahuan dan juga teknologinya sudah maju degan pesat sudah mencapai tingkat yang sangat mengagumkan , kita tidak dapat membuat kalkulasi berapa prosen pengetahuan yang telah mampu digali oleh manusia dari pengetahuan yang Allah turunkan dalam bentuk wahyu dan dalam bentuk sunnatullah. Manusia tidak dapat membuat prediksi kandungan pengetahuan di alam ini. Setiap massa ilmuan selalu menghasilkan penemuan-penemuan baru diberbagai bidang.
Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang bersumber dari alam ini, Allah memerintahkan agar kita selalu menggalinya, melakukan perjalanan, pengamatan, penelitian, sebagaimana Allah nyatakan dalam firman-Nya:
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Artinya: Katakanlah :”Bepergianlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu”.
     (QS. al-An’am (6):11)

Dalam pengembangan ilmu pengetahuan , manusia hanyalah subjek yang menemukan, mengoalah, dan merumuskan sehingga lahir sebuah teori. Manusia bukanlah pencipta. Sekecil dan sesederhana apapun ilmu pengetahuan itu, sumbernya tetap dari Allah SWT.
Dalam rangka tugas kekhalifahannya, manusia terus berupaya dan berusaha mencari tahu bagaimana cara memanfaatkan alam yang terhampar luas ini .
وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعً مِنْهُۚۚ
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ا
Artinya: “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan di bumi   semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan) Alloh bagi kaum yang berpikir”. (QS. al-Jatsiyah (45) : 13)

Belajar, mencari dan mengembangakan  ilmu pengetahuan dengan membaca, mencoba, memperhatikan, menyelidiki dan merumuskan susatu teori hendaklah semuanya dilakukan dengan berbasis iman. Tuhan mengajar manusia apa yang belum diketahuinya. Allah menciptakan pendengaran, peglihatan, dan hati agar dapat memahami apa yang Allah ajarkan, baik yang Allah turunkan melalui wahyu-Nya maupun yang Allah turunkan melalui fenomena alam ini.
Al-Qur’an  memerintahkan manusia untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan ilmiahnya.
نَرۡفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنۡ نَّشَآءُ‌ؕ وَفَوۡقَ كُلِّ ذِىۡ عِلۡمٍ عَلِيۡمٌ‏   ...
Artinya:  “Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki, dan diatas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui”. (QS. Yusuf (12) : 76).

Kita tidak boleh berhenti mencari ilmu , menurut Nabi kewajiban mencari ilmu dimulai dari bayi sampai akhir hayat. Kewajiban ini bukan hanya milik laki-laki, tetapi juga wanita. Dalam hal ini secara sederhana peran umat islam sekarang ini adalah mengintegrasikan islam dan iptek dalam proses pembentukan manusia yang berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan sehingga peran aktif umat islam dapat dilaksanakan bagi kenyamanan hidup umat manusia.

3.    Manfaat teknologi
a.    Memperoleh kemudahan
Manusia sebagai khalifah Allah diberikan kemampuan akal pikiran untuk memanfaatkannya dengan tepat. Untuk meraih kebutuhan hidup yang tidak mungkin dicapai melalui kemampuan fisik semata. Kemampuan itu memang telah ditentukan oleh Allah SWT, sebagaimana Allah menyatakan dalam firman-Nya:
ؕ    وَسَخَّرَ لَـكُمۡ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الۡاَرۡضِ جَمِيۡعًا مِّنۡهُ‌  
 اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَّتَفَكَّرُوۡنَ
Artinya: “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”. (QS. al-Jatsiyah (45) : 13)

Memperoleh kemudahan dalam hidup dengan mengembangkan potensi diri dan dengan memanfaatkan segala yang Allah tundukkan bagi manusia di alam ini sejalan dengan kehendak Allah. Hal itu dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya:   
يُرِيۡداللّٰهُ بِکُمُ الۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيۡدُ بِکُمُ الۡعُسۡرَ ُ...
Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. (QS. al-Baqarah (2) : 185)

Allah juga menyatakan bahwa memang Allah sengaja memberikan berbagai kemudahan kepada manusia agar manusia hidup dengan mudah.
وَنُيَسِّرُكَ لِلۡيُسۡرٰى ‌ۖ‌ۚ‏
Artinya: “Dan Kami memberi kemudahan agar kamu memperoleh kemudahan”. (QS. al-A’la (87) : 8)

b.    Mengenal dan mengagugkan Allah
Kesempurnaa alam dengan struktur dan sistemnya terbentuk dengan sempurna karena Allah SWT. Semakin luas dan dalam pengetahuan manusia akan rahasia alam ini, maka semakin dekat manusia untuk mengenal Allah. Hal itu dapat kita pahami dari berbagai ayat al-Qur’an , diantaranya:
اَفَلَا يَنۡظُرُوۡنَ اِلَى الۡاِ بِلِ كَيۡفَ خُلِقَتۡ ﴿۱۷﴾
وَاِلَى السَّمَآءِ كَيۡفَ رُفِعَتۡ‏ ﴿۱۸﴾ 
وَاِلَى الۡجِبَالِ كَيۡفَ نُصِبَتۡ‏ ﴿۱۹﴾ 
وَاِلَى الۡاَرۡضِ كَيۡفَ سُطِحَتۡ‏ ﴿۲۰﴾    
اِنَّمَاۤ اَنۡتَ مُذَكِّرٌ ؕ‏ ﴿۲۱﴾ؕ فَذَكِّر
Artinya: “(17) Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia  diciptakan?
(18) Dan langit, bagaimana dia ditinggikan?
(19) Dan gunung- gunung, bagaimana dia ditegakkan?
(20) Dan bumi, bagaimana dia dihamparkan?
(21) Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberikan peringatan”.
         (QS. al-Ghasyiyah (88) : 17-21)

Teknologi dan sains hanyalah sarana untuk lebih meningkatkan pengenalan manusia kepada Allah SWT. Kebesaran Allah akan lebih jelas bagi orang yang berpengetahuan  dibandingkan dengan orang yang kurang pengetahuan.  Karena itu Allah menyatakan:
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَآبِّ وَالۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَ لۡوَانُهٗ كَذٰلِكَ ؕ اِنَّمَا يَخۡشَى اللّٰهَ مِنۡ عِبَادِهِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيۡزٌ غَفُوۡرٌ‏
Artinya: “sesungguhnya orang yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya , hanyalah orang yang berilmu pengetahuan”.    
(QS. Fathir (35) : 28)

c.    Meningkatkan kualitas pengabdian kepada Allah
Manusia diciptakan oleh Allah hanyalah untuk mengabdi kepada-Nya. Demikian dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya:
وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ‏
Artinya: “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepada-Ku”. (QS. al-Dzariyat (51) : 56)

Teknologi apabila dirancang dan dimanfaatkan secara benar, maka teknologi diyakini akan mampu meningkatkan kualitas pengabdiannya kepada Allah. Apabila berbagai kemajuan yang dicapai manusia diniatkan dan diarahkan untuk kepentingan peningkatan kualitas pengabdiannya kepada Allah, maka kemajuan yang dicapai itu tidak membuat manusia menjadi lalai akan tugas kehidupannya. Karena itu Allah memerintahykan dalam firman-Nya:
قُلۡ اِنَّ صَلَاتِىۡ وَنُسُكِىۡ وَ مَحۡيَاىَ وَمَمَاتِىۡ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَۙ‏
Artinya: : “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.(QS. al-An’am (6) : 162)

d.    Memperoleh kesenangan dan kebahagiaan hidup
Kemudahan- kemudahan manusia yang diperoleh dari pemanfaatan teknologi membuat manusia dapat memperoleh kesenangan dan kebahagiaan hidup dalam ruang lingkup yang halal yang diridhai Allah. Untuk memperoleh kesenangan dan kebahagiaan hidup yang disediakan Allah, manusia diberikan sarana kebutuhan yang serba lengkap di bumi.
هُوَ الَّذِىۡ خَلَقَ لَـكُمۡ مَّا فِى الۡاَرۡضِ جَمِيۡعً ثُمَّ اسۡتَوٰۤى اِلَى السَّمَآءِ فَسَوّٰٮهُنَّ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ‌ؕ
 وَهُوَ بِكُلّ شَىۡءٍ عَلِيۡمٌ ِ     
Artinya: “Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu sekalian dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesutu”. (QS. al-Baqarah (2) : 29).

e.    Meningkatkan kemampuan memanfaatkan kekayaan alam
Teknologi meningkatkan kemampuan manusia untuk mengolah kekayaan alam secara optimal. Bumi diciptakan oleh Allah dengan baik , maksudnya bumi memiliki kesempurnaan dan keseimbangan sehingga dapat bertahan dan menyediakan berbagai kebutuhan hidup manusia. Karena itu pemanfaatan kekayaan alam yang ada di bumi ini jangan sampai mengganggu keseimbangan alam tersebut. Hal itu Allah ingatkan dalam firman-Nya:
وَلَا تُفۡسِدُوۡا فِى الۡاَرۡضِ بَعۡدَ اِصۡلَاحِهَا وَادۡعُوۡهُ خَوۡفًا وَّطَمَعًا‌ ؕ
 اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰهِ قَرِيۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِيۡنَ‏  
Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima ) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. al-A’raf (7) : 56).

f.    Menumbuhkan rasa syukur kepada Allah
Rasa syukur kepada Allah yang paling ringan adalah mengucapkan “alhamdulillahi rabbil ‘alamin”. Namun syukur yang sebenarnya adalah memanfaatkan nikmat itu secara benar untuk meningkatkan ketakwaan  kepada Allah. Bagi orang yang beriman, sekecil apapun nikmat yang ia dapatkan dari rezeki halal yang diberikan Allah kepadanya akan melahirkan rasa syukur kepada-Nya sebagai pemberi nikmat. Allah mengingatkan:
وَاِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَٮِٕنۡ شَكَرۡتُمۡ لَاَزِيۡدَنَّـكُمۡ‌ وَلَٮِٕنۡ كَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِىۡ لَشَدِيۡدٌ ‏
Artinya: “Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur , pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.( QS. Ibrahim (14) : 7)

4.    Tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Dalam pengembangan teknologi, sebagai karya manusia diharapakan mempunyai tujuan yang sesuai dengan fungsi dan kedudukannya yang dijadikan Allah selaku khalifah di bumi, dan hambaNya. Tujuan yang dimaksud antara lain:
a.    Menerapkan ilmu yang bermanfaat
Dalam kaitannya dengan penerapan ilmu menjadi teknologi hendaklah diarahkan pada kemajuan dan pengembangannya secara luas yang tetap memperhatikan manfaatnya. Sebaliknya tidak diabaikan sikap dan tindakan menghindari hal-hal yang merusak baik terhadap diri manusia sendiri maupun lingkungannya.

b.    Kemakmuran dunia
Manusia adalah makhluk Allah yang diberi potensi dan kekayaan yang dikenal  dengan akal dan budi. Dari potensi dan kekayaan akal budi tersebut, muncul karya- karya manusia yang terus berkembang , baik untuk kebutuhan jasmani maupun rohani. Yang termasuk didalamnya adalah hasil-hasil ilmu pengetahuan dan teknologi.  Sebagai makhluk Allah yang diberi tugas untuk memakmurkan dunia ini, hendaklah hasil karya manusia khususnya teknologi dapat menjadi bagian dari amal shaleh , dan upaya manusia dalam rangka menjalankan fungsi khalifah, memakmurkan dunia ini. Selain itu,  meningkatkan ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT.

c.    Kemajuan peradaban manusia
Peradaban manusia dulu dan kini dibangun melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejarah peradaban mengajarkan bahwa manusia tidak dapat hidup dari alam pertama (asli) sebagai layaknya hewan. Manusia mulanya memang hidup dari pemberian kekayaan alam sekitarnya yang masih mentah dan belum diolah. Karena keberhasilan ilmu pengetahuan, kini kehidupan manusia menjadi lebih baik dengan teknologi yang dikembangkannya.

d.    Memberikan kemudahan dalam berama shaleh
Manusia diciptakan untuk mengemban tugas sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya dimuka bumi ini, dimaksudkan agar mampu mengisi dan mengarahkan  dinamika kehidupan itu sehingga dapat menghasilkan nilai-nilai kebajikan, amal shaleh yang abadi di sisi Allah.

Tujuan pengembangan teknologi bagi umat Islam secara umum selalu dikaitkan dengan tujuan hidup manusia yaitu mancari ridha Allah melalui dua fungsi hidupnya yaitu selaku hamba Allah berkewajiban untuk senantiasa beribadah dan mengabdikan diri untuk menggapai ridha-Nya dan selaku khalifah-Nya, bertugas melestrikan lingkungan alam semesta dan menatanya untuk kemakmuran hidup manusia. Karena itu, teknologi sebagai suatu hasil karya manusia harus digunakan untuk mendukung kehidupan manusia agar hidupnya dapat bahagia, sejahtera, adil dan seimbang. Dengan teknologi, alam yang terbentang luas ini sengaja diciptakan oleh Allah agar dimanfaatkan sebesar- besarnya bagi kemakmuran hidup manusia.

C.    Etika islam dalam pengembangan iptek

Ilmu pengetahuan dan teknologi masih menjadi faktor dominan dalam kehidupan manusia. Teknologi akan berbahaya apabia berada ditangan orang yang secara mental dan keyakinan agama belum siap.  Membiarkan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu saja tanpa pengarahan yang sistematis akan sangat mengkhawatirkan.
Oleh karena itu, etika islam terhadap pengembangan ilmu dan teknologi dapat dikemukakan sebagai berikut.
Pertama, islam sebagai agama yang komprehensif dan universal dalam ajarannya tidak mengenal kompartementalisasi bidang-bidang kehidupan manusia. Karena itu, ilmu dan teknologi serta seluruh dimensi kehidupan lainnya terpadu dalam kehidupan tauhid. Manusia muslim diharuskan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi seoptimal mungkin, tetapi harus sesuai dengan ajaran islam.
Kedua, dalam sistem islam seluruh kehidupan manusia muslim pada hakikatnya harus diniatkan sebagai pengabdian (ibadah) kepada Allah. Dengan demikian, pndayagunaan iptek tidak mungkin digunakan untuk tujuan-tujuan seain kemaslahatan hidup manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu, islam tidak membenarkan penggunaan iptek untuk merusak kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya.
Ketiga, karena fungsi islam sebagai rahmat bagi seluruh alam , maka ilmu dan teknologi yang dikembangkan oleh seorang muslim adalah yang membawa rahmat bagi semua manusia. Sehingga, iptek harus dikelola dengan etika.

Keempat, ilmu dan teknologi boleh dikembangkan sejauh mungkin selama berlandaskan etik atau moral yang jelas. Sehingga iptek harus terus dikembangkan tetapi harus dilandasi moral islam.
Kelima, pengembangan ilmu dan teknologi harus memiliki hubunngan yang positif bagi peingkatan ketakwaan kepada Allah. Sehingga akan menghasilkan manusia yang berilmu sekaligus beriman (ulil abab). Dengan kemampuan membuka sebagian rahasia alam semesta beserta hukum-hukumnya yang sedemikian rapi, teratur dan sempurna  maka ilmu teknologi selayaknya berfungsi meningkatkan rasa takwa para pengembangnya dalam rangka berbakti kepada Allah. (Muhammad Alim. 2006 : 217)
Banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang menghendaki agar setiap muslim memiliki suatu budi igin tahu dan suatu sikap berfikir kritis, teratur dan tuntas terhadap fenomena- fenomena di alam semesta dan kehidupan manusia itu sendiri. Iman perlu dibina dengan pemahaman terhadap gejala-gejala alam semesta. Dengan deikian iman sejatinya tidak bisa dipisahkan dengan  ilmu , yaitu ilmu Allah. Karena sebenarnya semua ilmu berasal dari Allah. Manusia berusaha untuk mempunyai sekedar ilmu (yang sedikit), dari jenis- jenis ilmu yang sangat diperlukan untuk kebahagiaan hidup manusia didunia dan diakhirat.

D.    Kesimpulan

Manusia adalah makhluk Allah yang diberi anugrah berupa akal, karena tujuan diciptakannya manusia adalah sebagai khalifah dimuka bumi ini. Dengan akal yang telah diberikan Allah, islam menuntut manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan aspek ketauhidan. Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang bersumber dari alam ini, Allah memerintahkan agar kita selalu menggalinya, melakukan perjalanan, pengamatan, dan penelitian.
Dalam hal pengembangan iptek hendaknya didasarkan kepada ketaatan kepada perintah Allah untuk mendapatkan petunjuk-Nya. Ilmu pengetahuan dan teknologi harus dikembangkan tanpa mengenyampingkan kekuasaan Tuhan dan petunjuk-Nya di dalam al Qur’an. Karena akal selalu akan berkembang dalam keseimbangan dengan iman, maka mereka yang mempunyai iman akan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan norma-norma agama dan petunjuk Allah SWT.
Dengan demikian iman sejatinya tidak bisa dipisahkan dengan  ilmu , yaitu ilmu Allah. Karena sebenarnya semua ilmu berasal dari Allah. Manusia berusaha untuk mempunyai sekedar ilmu (yang sedikit), dari jenis-jenis ilmu yang sangat diperlukan untuk kebahagiaan hidup manusia didunia dan diakhirat.



Daftar Pustaka 
Tim Departemen  Agama RI. 2004. Islam Untuk Disiplin Ilmu Teknologi. Jakarta: Departemen Agama RI.
Tim Departemen Agama RI. 2004. Islam Untuk Disiplin Ilmu Manajemen   Informatika. Jakarta: Departemen Agama RI.
Bakry, H.M. Nurchalis, dkk. 1996. Bioteknologi dan Al Qur’an. Jakarta: Gema Insani Press
Taufiq, Ahmad dan Muhammad Rohmadi (Ed).  2010. Pendididkan Agama Islam.  Surakarta: Yuma Pustaka
Alim, Muhammad. 2006. Pendidikan Agama Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nata, H. Abuddin. 2010. Ilmu Pendidikan Islam Dengan Pendekatan Multidisipliner.  Jakarta: Rajawali Pers.
Baiquni, Achmad. 1996. Al Qur’an Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi. Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa.
©BETY DWI PERTIWI

Kumpulan Makalah Lainnya
Silahkan mengunjungi: Kumpulan Makalah

0 comments:

Post a Comment