Gudang Info yang berisi Berita, Cerita, Hiburan, dan Ilmu Pengetahuan

Monday, 30 January 2012

Cerpen berjudul Tak Pandang Status

Victorious Karim


Tak Pandang Status

“Ren, Rena, tunggu aku sebentar.”
Waktu itu pelajaran sekolah baru saja usai. Rena sedang berjalan pulang ketika mendengar suara seseorang memanggilnya. Dia menoleh ke belakang. Terlihat Reo sedang berlari mengejarnya dengan terengah-engah.

“Ada apa Reo?”,tanya Rena keheranan.
 “ Ren, aku mau mengembalikan buku novelmu yang sudah ku pinjam semingga yang lalu,” jawab Reo sambil merogoh tas birunya.
“Oooh, buku yang itu, aku saja malah lupa,” kata Rena dengan santai.
“Iya Ren, ini bukunya, terima kasih ya,” kata Reo sambil menyodorkan buku itu kepada Rena.
Kemudian mereka berjalan bersama menuju ke gerbang sekolah sambil bertukar cerita tentang pengalaman masing-masing. Langkah mereka terhenti ketika ada sebuah teriakan yang tertuju pada Rena.
“Reeenaaaaa!!!!!”.
Mendengar teriakan itu langsung terlintas di pikiran Rena bahwa itu suara kakaknya.
“Waah itu Kak Kato !” gumam Rena.

            Lalu Kato pun datang menghampiri Rena dan Reo.
“Kenapa kamu bersama dengan gembel ini, kamu tahu kan kalau kakak benci dengan dia!”
ucap Kato dengan wajah yang merah membara.
“Tapi kan Kak, dia gak ngapa-ngapain, cuma ngembaliin buku kok, “ucap Rena.  “Kakak gak peduli, pokoknya gak boleh tetap gak boleh”.
“Hei, gembel jangan coba-coba deketin adik gue, lo harus sadar lo tu siapa, kamu cuma anak miskin yang sekolah di sini juga karena dikasihani orang tua gue ” kata Kato dengan sadisnya.

Sesaat kemudian sebuah hantaman melayang dipipi Reo. Reo jatuh tersungkur karena tidak bisa menangkis hantaman yang tidak terduga itu. Kemudian ia berdiri sambil mengusap darah yang keluar dari bibirnya. Reo berusaha melawan tapi ia kuwalahan karena kato dibantu oleh Senji. Senji adalah anak buah si Kato yang kerjaannya berkelahi di sana sini. Tentunya dia tidak canggung juga untuk menghajar Reo.

“Kak sudah, jangan sakiti Reo lagi, dia tak salah apa-apa!” kata Rena dengan wajah pucat menyaksikan kejadian itu.  Rena menghalangi kakaknya yang ingin terus memukul Reo. Dia dengan cepat menolong Reo yang sedang kesakitan. Tetapi kato tetap tidak peduli, ia dorong adiknya ke pinggir sampai jatuh.

Tidak berapa lama saat Reo dihajar habis-habisan oleh mereka berdua, tiba-tiba mereka diserang dari belakang oleh seseorang.
“Plak, deer !” hantaman itu datang kepada Kato dan Senji.
Kemudian mereka berdua langsung jatuh tak berdaya karena menerima pukulan keras dari seseorang tadi. Lalu mereka perlahan bangun dan melawan anak tadi. Dengan jurus-jurus karate anak itu tidak banyak kesulitan melumpuhkan Kato dan Senji.
“Kalian pergi atau mau ku hajar lagi!” teriak anak itu.
Karena merasa mereka tidak akan bisa menang melawannya, Kato dan Senji menyerah minta ampun.
“Ampun! Kami menyerah, kami akan segera pergi,” ucap Kato dan Kenji dengan wajah lesu dan malu.

            Setelah Kato dan Senji sudah pergi, anak tadi segera menuju si Reo.
“Gi mana kondisimu?” tanya anak itu.
“Aku tidak apa-apa, cuma memar sedikit kok,”  jawab Reo.
“Kayak gini kok dibilang sedikit, ini lihat memar-memar di pipimu, aku malah takut sendiri,” kata Rena dengan cemas karena melihat keadaan Reo.
 “Yaudah, ayo kerumahku saja, kebetulan rumahku cuma di pertigaan depan sana, tidak jauh dari sekolah ini, nanti kita obatin lukanya,” kata anak itu dengan ramah.
“Oya, ide bagus itu,” ucap Rena
“Tapi, tapi…….,”  keluh Reo.
“Udah jangan banyak tapi-tapian,” sahut Rena.
            Lalu anak itu merangkul Reo sambil berjalan dan Rena di samping mereka sambil membawakan tas Reo yang tadi jatuh. Di jalan mereka mengobrol sebentar.
“Oh iya, aku malah belum berterimakasih ke kamu, makasih kamu sudah menolongku tadi, ” ucap Reo dengan tersenyum.
“Oke sama-sama, jangan sungkan begitu, itu sudah kewajiban kita menolong sesama yang sedang kesulitan,” balas anak itu.
“ Lhah nama kamu siapa?” tanya Rena kepada anak itu.
“ Hee kenalkan namaku Mantaro Jimy, dan sering dipanggil Jim. Aku murid baru di sekolah kalian”
“Ooo, kenalkan juga saya Reo.”
“Weeitsss, jangan lupa kalau namaku Rena .”

            Mereka saling bersalaman dan mengenalkan diri mereka masing-masing. Karena perjalanannya tidak jauh, beberapa menit kemudian mereka telah sampai di rumah Jim.
“Ayo Reo, Rena masuk ke rumah,” Jim langsung membukakkan pintu rumah yang memang tidak sedang dikunci.
“Oya, baik,” sahut Rena dan Rio.
“Kalian silahkan duduk dulu,” suruh Jim dengan sopan.
Lalu Jim masuk ke dapur. Dia membuatkankan kawan-kawan barunya minuman teh dingin. Setelah selesai, tidak lupa ia juga mengambil seperangkat tas yang berisi obat P3K. Kemudian membawanya menuju ke ruang tamu.
“Ini silahkan, aku bawakan minuman untuk kalian berdua,” ucap Jim.
“Ohh, kok malah repot-repot segala kamu,” kata Rena.
“Tidak apa-apa, ini diminum dulu, kalian pastinya haus,”
“Yah, makasih jim,” Reo berterimakasih kepada Jim.

            Setelah mereka selesai minum, Jim segera mengambil obat-obat dan perban yang ada di dalam tas.
“Ini obat dan perbannya ya,” kata Jim.
“Oyah, siap baik.”  Rena langsung bertindak membersihkan luka di pipi Reo.
“Auwh, sakit,” Reo meringis menahan sakit saat Jim dan Rena berusaha mengobati lukanya.
“Yah, tahan sebentar ya,”
“Maaf tapi, aku malah merepotkan kalian.”
“Jangan begitu, tentunya kami akan tetap berusaha membantu mu,”

Saat Reo sedang diobati, dia pun bertanya kepada Jim.
“Jim, kok kamu mau si nolongin aku sampe segininya, padahal kan tadi kamu belum kenal sama aku?”
“ Hmm, begini saat itu aku juga pernah ditolongin sama seseorang waktu aku dikeroyok segerombolan perampok. Jadi aku sudah berjanji pada diriku untuk akan selalu menolong orang lain yang dalam keadaan membutuhkan dan mendesak atau pun teraniaya. Dan pastinya aku akan menolong mu tadi, walau kita belum kenal tapi hati ini terasa tergugah melihat kejadiaan seperti tadi, dan langsung saja aku menghentikan orang-orang yang memukul mu tadi.”
“ Ohh, gituh, jadi kata pepatah tak kenal maka tak sayang untuk hal ini berarti bisa diubah jadi tak kenal pun bisa jadi sayang, hhehe, maksudnya sayang bukan harus berarti hal-hal semacam itu lho, maksudnya Jim rela berkorban menolong ku saat aku kesusahan.”
“Wuihaha, iya juga ya Reo,” ucap Rena.
“Jhaha, bisa saja kamu Reo,” kata Jim sambil tertawa.
“Eeh, ini sudah selesai kita ngobatin lukanya si Reo.”
“Wahh, makasih kawan.”
“Iya, sama-sama kok,” kata Rena dan Jim.

“Semoga cepat sembuh Reo,” Rena memberi perhatian untuk Reo.
“Iya Ren, makasih doanya.”
“Tapi maaf banget ya Reo, gara-gara kakakku kamu seperti ini.”
“Iya, gak papa kok, aku rela menerima semua ini, memang kayaknya aku gak layak dekat-dekat dengan mu.”
“Wah ya jangan ngomong begitu, aku tetap akan teman dengan mu nanti akan ku urus masalah ini dengan ayah dan ibu, biar kakak mendapat hukumannya.”
“Oo, iya deh terserah kamu, aku yakin kamu tahu yang terbaik.”

            “Wey, sudah selesai ngobrolnya?” Jim mencuat berbicara.
“Whee, maaf ya malah kami lupain kamu,” Rena meminta maaf ke Jim karena dia malah ngobrol dengan Reo tanpa peduli dengan Jim di sampingnya.
“ Oh iya kok tenang saja, tidak apa-apa.”
           
            “Eh Ren, sudah sore ini, ayo kita pulang,” ajak Reo kepada Rena.
“Yah ayo,” jawab Rena.
“Jim aku ucapkan banyak terima kasih kepada mu. Tanpa mu tadi aku tak tahu jadi apa aku. Sekarang kami mohon pamit dulu. Sampai bertemu esok di sekolah.”
“Oya, ok Jim, Ren.”
            Lalu  jim membukakkan pintu rumahnya, Rena dan Reo keluar dari rumah Jim.
“ Reo, gi mana, kamu pulangnya aku anter atau gi mana?” Tanya rena.
“Ohh gak usah Ren, aku gak papa, kakiku tidak begitu sakit kok, aku masih bisa jalan.” Jawab Reo.
“Yadeh, aku pulang dulu Reo, hati-hati di jalan.”
“Yah Ren hati-hati juga.”

            Mereka berdua pun pulang ke rumahnya masing-masing. Walau berbeda status sosial, mereka tetap berteman baik dan tetap saling perhatian. Persahabatan atau pun cinta seharusnya tidak memandang masalah seperti itu, tetapi sayang yang diberikan lebih bermakna dari pada sekarung uang yang hanya bisa membuat perpecahan.


 SMA N 1 Bantul
Ckhoirudin Info-Gudang Ilmu

0 comments:

Post a Comment